Theresia Ebenna Ezeria Pardede : Inspirator Hijrah

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Information

Lama menghilang dari industry musik, kini Theresia Ebenna Ezeria Pardede atau yang dikenal Tere hadir dengan penampilan yang beda. Tepat 01 Januari 2017, perempuan cantik kelahiran 02 September 1979 ini memutuskan untuk berhijrah dan menggunakan hijab.
Tere mengungkapkan, bahwa keputusannya menggunakan hijab mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya dan menggunakan hijab adalah keputusan yang final bagi dirinya. “Menggunakan hijab adalah keputusan Illahi. Saya ingin menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi dan sampai akhir hayat khusnul khatimah,” kata Tere saat ditemui di acara Sistehoodgigs Movement beberapa waktu lalu.
Berhijab bukan berarti berhenti berkarya. Hingga saat ini, Tere masih tetap bermusik, meskipun tak lagi tampil di depan layar, Tere lebih menikmati perannya di belakang layar karena lebih cocok dengan karakter dirinya. “Bermusik itu mengedepankan audio bukan fisik. Kalau lagunya enak, dengarkan lagunya. Karena musik itu kan sifatnya mubah, kalau baik menjadi halal, tapi kalau berisi konten yang tidak baik, maka menjadi haram. Hukum bermusik itu tergantung pada pesan yang disampaikan, apa yang diinspirasikan dari lagu tersebut,” ujarnya.
Hijrah yang dijalani Tere tidak hanya memberikan kebaikan pada dirinya, tetapi juga telah menginspirasi banyak orang untuk berhijrah dan menjalani hidup lebih baik lagi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tere kini menjadi inspirator hijrah kaum muslimah. “Saat ini lagi pingin buat konsep  untuk supporting proses hijrahnya muslimah, sambil sharing dan dijalani,” lanjut Tere.
Pelantun lagu ‘Awal yang Indah’ itu tidak hanya menjadi inspirasi kaum muslimah saja. Komitmennya terhadap musik ia tunjukkan dengan menggerakkan musisi perempuan dalam Sisterhoodgigs Movement yang didirikan pada 28 Oktober 2014. Sisterhoodgigs Movement merupakan komunitas atau tempat berkumpulnya musisi perempuan dari berbagai genre musik.
Setelah melalui pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Hukum dan HAM bekerjasama dengan Universitas Trisakti pada tahun 2015 lalu, Tere juga resmi dikukuhkan menjadi Konsultan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Menjadi Konsultan HAKI, menurut Tere adalah untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kesadaran HAKI dan menjadi professional yang membantu fasilitasi pendaftaran berbagai spectrum HAKI, seperti Hak Cipta, Merek, Desain Industri, Paten, Indikasi Geografis, rahasia dagang dan desain tata letak sirkuit terpadu. “Menjadi Konsultan HAKI bagi saya adalah cara yang paling tepat untuk menyadarkan masyarakat Indonesia, bahwa di era digital ini sudah saatnya untuk mengandalkan kekayaan intelektual dalam membangun negeri. Karena jika kita terus bertumpu pada kekayaan alam yang sifatnya tidak terbarukan, kita tidak bisa mewariskan kebaikan untuk anak cucu kita. Sebaliknya, hak kekayaan intelektual justru memberikan banyak sekali dampak positif bagi masa depan generasi,” jelas Tere. B