Muhammad Resky : Pengajar Yang Profesional

Ditulis oleh Teks : Muhammad Resky*, Foto : Istimewa on . Posted in Information

Beberapa tahun yang lalu ketika masih aktif mengajar, ada rekan dosen dan instruktur yang bertanya kepada saya, “bagaimana caranya atau persyaratan apa untuk menjadi pengajar yang profesional?”. Wah ini merupakan pertanyaan yang berat karena saya yang sudah berpengalaman jadi pengajar dan instruktur selama 30 tahun (1987 sd 2016) saja masih belum berani mengatakan apakah saya sudah  profesional?, karena yang menilai apakah kita profesional atau tidak adalah pihak lain yaitu dari sesama pengajar, siswa atau taruna yang diajar, lembaga tempat kita mengajar dan masyarakat umum. Sekarang ini banyak pengamat pendidikan baik di bidang penerbangan maupun kebandarudaraan mengatakan bahwa kita masih kekurangan tenaga pengajar yang professional, dan untuk menjadi pengajar professional tidaklah mudah karena butuh persyaratan antara lain bakat mengajar, pengalaman, latar belakang pendidikan dan juga hasil karya  pengajar tersebut.
Yang pertama, seorang pengajar haruslah punya bakat ngajar karena banyak terdapat dosen-dosen yang bergelar S2, S3, instruktur dan trainer yang tidak bisa mengajar dan ini dikuatkan dari complaint siswa atau taruna yang diajar. Contohnya ialah seorang dosen yang bergelar S3 mengajar dengan membaca buku sambil duduk di depan klas tanpa menatap para mahasiswanya. Dosen ini biasanya memberikan kesempatan bertanya pada mahasiswanya pada saat lima menit menjelang kuliah berakhir.
Yang kedua ialah seorang pengajar harus tahu apa yang mau diajarkan karena banyak kasus setelah diadakannya sebuah diklat, barulah di carikan tenaga pengajarnya. Ironisnya lagi ialah untuk mengambil hati pimpinan perusahan atau lembaga diklat, maka oleh panitia, pejabat yang bersangkutan di mohon untuk mengajar dengan di carikan mata pelajarannya walaupun kadang-kadang tidak relevan dengan diklat yang diajarkan.  Ada lagi kasus dimana ada kebiasaan untuk pemberdayaan tenaga pengajar yang ada demi pemerataan seperti di STPI Curug dimana ada mata pelajaran yang tidak relevan dengan diklatnya seperti contoh mata pelajaran Dangerous Good (DG) pada diklat AMC (Apron Movement Control) padahal AMC itu fokusnya di Apron bukannya di Cargo, lain halnya dengan diklat Avsec (Aviation Security) karena Avsec yang berdinas di Cargo harus mengetahui DG. Kasus lain ialah pada waktu PT AP II menyelenggarakan Program D3 MBU (Manajemen Bandar Udara) yang bekerjasama dengan STMT Trisakti beberapa tahun yang lalu. Karena materi program ini lebih banyak mengenai kebandarudaraan, maka hampir 80 persen pengajarnya berasal dari pejabat AP II.  Yang lucunya ialah para pengajarnya bukan dilihat dari keahlian atau pengalaman tapi berdasarkan pada jabatannya. Contohnya untuk mata kuliah Airport Operation yang di ajarkan oleh Kasubdit Operasi Bandara dimana sebenarnya pejabat ini adalah mantan ATC (Air Traffic Controller) dan lama berkecimpung di bidang komersil. Dari Kepala Divisi Komersil BSH langsung menjabat sebagai Kasubdit Operasi Bandara dan akhirnya, karena tidak berpengalaman di Operasi Bandara, maka hasil pengajarannya  pun tidak maksimal. Contoh lain ialah pengajar yang mengajar AMC tapi tidak pernah jadi Apron Movement Controller atau berdinas di Divisi Operasional Sisi Udara,
Yang Ketiga ialah siapa yang diajar? apakah kelas taruna atau siswa pemula atau kelas para karyawan yang sudah berpengalaman?. Kalau Kelas karyawan atau TOT (Training For Trainers) tidak perlu mengajarkan teori seperti Annex atau Undang-Undang/Peraturan-Peraturan Penerbangan/Kebandaraudaraan dan lain-lain, karena mereka sudah mengerti tapi lebih tepat diajarkan atau diskusi mengenai kasus-kasus yang relevan dengan pekerjaan  mereka dan bagaimana cara menanganinya. Yang terakhir ialah hasil karya dari sang pengajar itu sendiri yang berupa tulisan ilmiah baik di Jurnal penerbangan/kebandarudaraan atau buku. Saya mengenal beberapa pengajar profesional yang pakar dibidangnya antara lain DR Kemis Martono, SH, pakar Hukum Udara (Air Law), DR Yaddy Supriyadi MSi, pakar ATC dan Keselamatan Penerbangan dan Arista Atmajati, SE MM, pakar Manajemen dan Bisnis Penerbangan. Mereka ini selain pengajar juga menulis artikel di jurnal penerbangan, majalah ilmiah dan menerbitkan beberapa buku hasil karyanya. Memang untuk menjadi pengajar profesional tidaklah mudah tapi bukan berarti tidak bisa asal mau berusaha kearah sana.                                            
*Pengamat Operasi Bandara