Bandara Betoambari : Garuda Terbangi Ambon – Baubau

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto dok Bandara Betoambari on . Posted in Domestic

Maskapai Garuda Indonesia terus melakukan ekspansi dengan membuka rute baru guna menghubungkan daerah Nusantara yang sebagian besarnya adalah kepulauan. Tepat hari Rabu, 07 Maret 2018, burung besi berplat merah itu resmi menerbangi rute Ambon – Baubau menggunakan pesawat jenis ATR-72.
Pelaksana Tugas Kepala Bandara Betoambari Ermi Taperna Antula mengemukakan, dengan dibukanya rute penerbangan tersebut tidak saja memudahkan pergerakan masyarakat Baubau yang ingin menuju Ambon, tetapi juga menghubungkan dua provinsi di Indonesia, yakni Provinsi Sulawesi Tenggara dan Provinsi Maluku. “Dengan adanya penerbangan ini, jadi memudahkan masyarakat Kota Baubau yang ingin berkunjung ke Ambon. Karena masyarakat Baubau sebagian besarnya adalah asli Ambon. Dengan adanya penerbangan langsung Ambon – Baubau ini juga mempersingkat waktu perjalanan, karena calon penumpang yang ingin ke Ambon tidak lagi melalui Makassar,” katanya.
Saat ini Garuda Indonesia menerbangi rute Ambon – Baubau PP seminggu dua kali, yaitu hari Rabu dan Minggu. Namun tidak menutup kemungkinan rute penerbangan ini bisa menjadi setiap hari, karena permintaan rute penerbangan ini terbilang cukup tinggi. “Peminat rute penerbangan Ambon – Baubau ini cukup tinggi. Tercatat, penumpang pada penerbangan perdana ini sebanyak 80% dan hingga saat ini peminatnya tetap tinggi,” tambah Ermi.
Dengan demikian, movement di bandara yang terletak di Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara kini semakin bertambah. Jika sebelumnya movement di bandara ini sebanyak 98 kali dalam satu minggu, kini meningkat menjadi 102 kali dalam satu minggu.
Bertambahnya maskapai yang melayani penerbangan di bandara yang memiliki panjang landasan pacu 1.800 meter itu pun disambut gembira dengan Pemda Kota Baubau. Karena penerbangan ini juga tidak hanya memudahkan masyarakat Pulau Buton saja, tetapi juga memudahkan pergerakan pelaku bisnis dari Ambon yang ingin mengembangkan usahanya di Baubau. “Penerbangan perdana ini juga turut dihadiri oleh Plt. Walikota Baubau Hado Hasina dan Sekda Kota Baubau. Pemda sangat mendukung penerbangan ini dan kami juga berharap, Pemda mendukung dan membantu pengembangan Bandara Betoambari agar dapat didarati oleh pesawat berbadan besar seperti Boeing,” tutup Ermi. B

Bandara Andi Jemma : Segera Perpanjang Runway

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Berada di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, membuat pengelola UPBU Andi Jemma terus mengembangkan bandara yang terletak di Masamba. Salah satunya adalah dengan memperpanjang runway yang saat ini hanya 900 meter x 23 meter menjadi 1.600 x 30 meter.
Kepala Bandara Andi Jemma Rasidin mengungkapkan, bahwa tahun 2017 masterplan pengembangan bandara itu sudah direview dan saat ini sedang dalam proses penandatanganan Menteri Perhubungan. “Saat pembahasan rencana usulan tahun 2019 yakni memperpanjang runway ternyata disetujui 1.200 x 30 meter. Kami berharap perpanjangan runway menjadi 1.600 meter dapat selesai di tahun 2020 agar Masamba dapat didarati pesawat berbadan besar seperti pesawat jenis ATR 72-600,” katanya.
Saat ini Bandara Andi Jemma melayani penerbangan perintis rute Masamba – Rampi – Palu PP dan Masamba – Seko – Palu PP terbang seminggu enam kali, yakni hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu. Serta rute Masamba – Seko – Toraja yang terbang seminggu dua kali, yakni hari Rabu dan Jumat, yang masing-masing penerbangan dilayani oleh maskapai Susi Air. “Penerbangan perintis di bandara ini memudahkan berbagai kegiatan masyarakat yang berada di daerah terpencil seperti Seko dan Rampi yang akses menuju daerah tersebut terbilang sangat sulit karena berada di atas gunung, juga membantu mendongkrak perekonomian daerah,” lanjut Rasidin.
Berdasarkan catatan, pergerakan penumpang berangkat dan datang di Bandara Andi Jemma sepanjang tahun 2017 sebanyak 13.403 orang. Wajar saja, jika pergerakan penumpang di bandara perintis ini cukup tinggi, karena transportasi udara di Luwu Utara sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk membuka keterisoliran. Dengan dikembangkannya bandara itu, maka  menambah kemudahakan bagi masyarakat Luwu Utara dan Pemda yang ingin menuju ke Makassar langsung tanpa harus melewati Bandara Lagaligo Bua di Kabupaten Luwu yang menempuh jarak dua jam perjalanan darat dari Masamba, lalu dari Bua melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Makassar. Sedangkan jika menggunakan jalur darat Masamba – Makassar membutuhkan waktu sembilan hingga sepuluh jam perjalanan. “Kalau bandara ini runwaynya sudah diperpanjang, penerbangan komersil di bandara ini pun bisa terealisasi, namun demikan penerbangan perintis tetap hadir untuk menghubungkan daerah terpencil dengan kota besar lainnya. Kami bersyukur, Pemda Luwu Utara sangat mendukung pengembangan bandara,” ungkap Kabandara. B

Bandara Andi Jemma : Layani Angkutan Cargo Perintis

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Senin, 02 April 2018, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo meresmikan Penerbangan Perdana Jembatan Udara Perintis Kargo di Bandara Andi Jemma. Penerbangan cargo ini dilayani oleh maskapai Susi Air yang terbang seminggu empat kali pada tanggal genap, yakni hari Senin hingga Kamis, dan terbang seminggu lima kali pada tanggal ganjil, yakni hari Senin-Jumat. Penerbangan cargo melayani rute Masamba – Rampi PP dan Masamba – Seko PP.
Kepala Bandara Andi Jemma Rasidin mengemukakan, bahwa diselenggarakannya penerbangan cargo dengan rute tersebut adalah salah satunya untuk menurunkan disparitas harga di Seko dan Rampi yang merupakan daerah terpencil di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, yang hanya dapat ditempuh menggunakan sepeda motor. Jika menggunakan ojek, biayanya mencapai Rp 500.000 – Rp 1.000.000 dan lama perjalanan yaitu satu hari satu malam menuju Seko dan tiga hari dua malam menuju Rampi. Sehingga kebutuhan logistic di daerah tersebut mahal dan harganya berdasarkan tingkat kesulitan dalam membawa barang tersebut sampai ke Seko dan Rampi.
“Sesuai dengan Perpres 70 Tahun 2017, bahwa jembatan udara adalah pelaksanaan angkutan udara kargo dari dan ke bandara lainnya yang berada di daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan yang salah satu tujuannya adalah untuk menurunkan harga di daerah tersebut dan hari pertama terbang ini membawa barang sebanyak satu ton,” katanya.
Biaya angkut penerbangan cargo ini tidak dikenakan biaya dan ditanggung oleh Pemerintah Pusat, kecuali bagi distributor atau toko yang akan menggunakan jasa jembatan udara ini dikenakan biaya sebesar Rp 500 saja untuk per kilogramnya. Untuk sisi darat, angkutan kargo ini dikelola oleh Perusda, namun karena Perusda sedang dalam pembenahan, untuk sementara Bupati Kabupaten Luwu Utara Indah Putri Indriani menunjuk koperasi bandara untuk mengelola angkutan kargo hingga Perusda siap beroperasi. “Kami berharap penerbangan kargo ini pesawatnya lancar tidak ada kendala, sehingga target frekuensi penerbangan kargo yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam setahun 966 kali pun dapat tercapai. Dengan demikian, otomatis barang pun terangkut,” tutup Rasidin. B

Bandara Sanggu Buntok : Susi Air Terbang Perdana Banjarmasin – Buntok

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in Domestic

Hari Senin, 12 Maret 2018, sebuah pesawat kecil mendarat mulus di landasan pacu Bandara Sanggu yang berlokasi di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Ketika pesawat itu memasuki taxiway, seketika semprotan air menyambutnya. Begitulah ritual penerbangan perdana. Pesawat kecil milik maskapai Susi Air itu memang mendarat perdana di Bandara Sanggu. Pesawat perintis itu menerbangi rute Banjarmasin – Buntok PP. Penerbangan ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat Buntok, juga warga di Barito Selatan maupun tiga kabupaten di sekitarnya.
Wajar jika pendaratan pesawat berkapasitas 12 penumpang itu disambut gembira Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri. Saat itu Bupati didampingi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan ratusan masyarakat di Kecamatan Sanggu, dan warga Buntok. Kota Buntok merupakan Ibukota Kabupaten Barito Selatan. Sementara itu Wakil Bupati Barito Selatan  Satya Titiek Atyani Djoedir dan Kepala Otban VII Agus Subagyo  yang ikut dalam pesawat turun dari tangga pesawat dengan wajah sumringah.  Rombongan diterima dengan sajian tarian khas daerah Dayak.
Bupati Eddy Raya dengan nada terharu dan bahagia mengatakan penerbangan perdana Susi Air ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Kabupaten Barito Selatan yang dulunya dikenal sebagai penghasil emas terbesar di Indonesia. “Kami bangga dan bahagia adanya penerbangan Susi Air ini, diharapkan tidak hanya memenuhi dahaga masyarakat Kabupaten Barito Selatan akan angkutan udara, tapi penerbangan ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di jantung kota di Kalimantan Tengah,” kata Bupati Eddy Raya.
Sebelumnya Susi Air pernah terbang dari Palangkaraya ke Buntok, namun sejak beberapa tahun yang lalu terhenti. Perjalanan darat dari Palangkaraya ke Buntok ditempuh 5 hingga 6 jam, tapi sekarang dengan membaiknya akses transportasi darat jarak tempuh menjadi 3 jam. Sementara perjalanan darat dari Banjarmasin ke Buntok makan tempo 9 jam, tidak mengherankan jika penerbangan perdana Susi ini disambut dengan antusias oleh masyarakat Barito Selatan.
Kepala Bandara Sanggu Agus Priyatmono mengatakan penerbangan Susi Air ini adalah penerbangan perintis yang disubsidi oleh pemerintah melalui Kementerian Perhubungan. Untuk tahun ini penerbangan perintis ini melayani sebanyak 53 penerbangan sehingga masa waktu penerbangan perintis tersebut selama 6,5 bulan sejak 12 Maret 2018 sampai  September 2018.
“Kementerian Perhubungan mengalokasikan anggaran untuk tahun ini sebanyak 53 kali penerbangan perintis, setelah itu diharapkan akan berkembang penerbangan komersial ke daerah ini,” ujar Agus Priyatmono.
Pada kesempatan itu bupati mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perhubungan yang telah memberikan subsidi penerbangan pada rute itu. “Kita mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang telah membuka penerbangan di Bandara Sanggu Buntok dengan jadwal penerbangan dua kali dalam seminggu yakni pada Senin dan Jumat,” kata Bupati Barito Selatan.
Menurut dia, dengan adanya rute penerbangan ini, maka sektor perekonomian, sosial budaya maupun sektor pariwisata di daerah ini akan mengalami perkembangan lebih cepat. “Karena mobilisasi arus keluar masuknya penduduk akan lebih cepat dibandingkan dengan selama ini yang hanya mengandalkan transportasi darat menuju ke Banjarmasin,” jelas Eddy Raya Samsuri.
Oleh karena itu, Bupati Barito Selatan pada saat menyampaikan sambutan akan memikirkan untuk melanjutkan rute penerbangan ini, mengingat pada November 2018 mendatang di Buntok akan dilaksanakan Kejuaraan Nasional Dayung. B

Kabupaten Teluk Wondama : Segera Bangun Bandara Baru

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Tingginya anstusias masyarakat terhadap transportasi udara di Kabupaten Teluk Wondama, membuat pengelola Bandara Wasior terus berbenah melakukan berbagai perbaikan dan peningkatan pelayanan bandara. Salah satunya adalah merenovasi terminal dan menyediakan tempat parkir yang saat ini masih menunggu pembebasan lahan dari Pemda.
Kepala Bandara Wasior M. Sarif Hidayat mengemukakan, terminal penumpang yang ada saat ini hanya dapat menampung 20 orang penumpang, sehingga diperlukan perluasan untuk memudahkan pergerakan penumpang. “Kalau mengembangkan bandara menjadi lebih besar itu tidak bisa karena keterbatasan lahan. Tapi kita akan memaksimalkan yang ada, seperti renovasi terminal dan pengadaan X-Ray baru di tahun ini,” katanya.
Lahan yang terbatas dan lokasi  Bandara Wasior saat ini yang pernah diterpa banjir bandang pada tahun 2010 dan 2013 lalu sehingga tidak bisa dikembangkan, membuat Pemerintah Pusat berencana akan membangun bandara baru di Kabupaten Teluk Wondama. Pembangunan bandara baru ini pun atas intruksi Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Teluk Wondama pada 05 April 2016 lalu dalam rangka peresmian Pelabuhan Teluk Wondama. “Saat peresmian pelabuhan, Presiden Joko Widodo menggunakan helicopter dan mendaratkannya di bandara ini. Beliau melihat kondisi bandara secara langsung yang memang sudah tidak bisa dikembangkan. Saat itulah, Presiden menginstruksikan pembangunan bandara baru sebagai pengganti Bandara Wasior yang tidak dapat dikembangkan,” ujar Sarif.
Terkait pembangunan bandara baru, Sarif menjelaskan lebih lanjut, bahwa lokasi bandara baru berjarak 10 km dari bandara yang ada saat ini dan pembangunan bandara baru ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemda Kabupaten Teluk Wondama dengan membebaskan lahan seluas 280 hektar dan mengusahakan pembayaran lahan untuk pembangunan bandara baru secara bertahap mulai tahun ini. “Pemda sudah menyiapkan lahan, hanya saja pembebasan lahan belum dilaksanakan dan masterplan pun sudah ada hanya SK Menteri yang belum turun,” jelas Kabandara.
Menurut Sarif, runway bandara baru ini rencananya akan dibangun sepanjang 1.600 meter sehingga dapat didarati pesawat berbadan besar seperti ATR-72 yang dapat mengangkut penumpang lebih banyak lagi. “Yang pasti bandara baru ini lebih besar dari bandara yang ada saat ini dan runway-nya pun lebih panjang, sehingga pesawat berbadan besar pun dapat mendarat di Teluk Wondama,” tuturnya.
Pembangunan bandaru baru ini diperkirakan rampung dalam waktu lima tahun. Selama lima tahun itu, Sarif dan anggotanya akan memaksimalkan yang ada di Bandara Wasior, seperti menambah frekuensi penerbangan dan meningkatkan kualitas pelayanan bandara. B