Bandara Miangas : Strategi Pertahanan Negara

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Istimewa on . Posted in Domestic

Pulau Miangas adalah pulau terluar yang berada paling utara Indonesia. Pulau ini berbatasan langsung dengan Philipina, yakni hanya berjarak 40 mil laut saja. Jarak menuju negara tetangga ini lebih dekat dari pada menuju Melonguane yang merupakan Ibukota Kabupaten Kepulauan Talaud, yakni berjarak 110 mil laut dan Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, yang berjarak 320 mil laut.
Sebagai pulau terdepan di ujung utara, tentu Miangas memiliki peran. Salah satunya adalah berperan penting dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga pemerintah harus memperkuat posisinya. Penguatan tersebut diwujudkan dengan dibangunnya bandara, serta infrastruktur publik lainnya sebagai bentuk kehadiran Pemerintah di tengah masyarakat Miangas.
Sejak diresmikannya pada 19 Oktober 2016 oleh Presiden Jokowi, Bandara Miangas membuka konektifitas di daerah terluar, sehingga menumbuhkan rasa cinta yang luar biasa bagi penduduk perbatasan terhadap Ibu Pertiwi. Hadirnya Bandara Miangas juga merupakan wujud nyata dari program Nawacita pemerintahan Joko Widodo.
Kepala Bandara Melonguane yang juga membawahi Bandara Miangas Fanani Zuhri mengemukakan, dengan adanya bandara di perbatasan membuat daerah itu pun banyak dikunjungi oleh pejabat, sehingga menunjukkan bahwa daerah perbatasan sangat dekat dengan Pemerintah Pusat. “Dengan hadirnya bandara ini, membuat banyak pejabat yang berkunjung ke Miangas dan membuat daerah perbatasan menjadi sangat dekat dengan Pemerintah Pusat,” katanya.
Bandara yang terletak di Kecamatan Khusus Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara ini memiliki panjang landasan pacu 1.400 meter x 30 meter dan sudah diterbangi pesawat komersil Wings Air rute Melonguane - Miangas.  Bandara ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana umum untuk melayani transportasi udara di wilayah perbatasan, tetapi juga sebagai home base patroli teritorial di wilayah perbatasan. TNI dan Polri saling bersinergi menjaga keamanan dan pertahanan NKRI di wilayah perbatasan.
Fanani juga menambahkan, bahwa beberapa waktu lalu, tepatnya hari Minggu, 10 Februari 2018, di Bandara Miangas telah dilaksanakan kegiatan Rubber Duck Operation Pasukan Khusus Intai Amfibi Korps Marinir TNI AL guna menciptakan stabilitas keamanan, pertahanan dan kedaulatan NKRI di perbatasan. “Home base pelaksanaan latihan ada di Bandara Melonguane dan untuk home base hercules di Bandara Sam Ratulangi, di Manado.  Bandara Miangas memiliki peran sebagai strategi pertahanan negara dengan target dan misi yang sama. Alutsista yang digunakan ada dua cassa, satu hercules, dua KRI dan delapan sea rider,” jelasnya. B

Bandara Hang Nadim : Melayani 23 Destinasi Bandara Dalam Negeri

Ditulis oleh Teks Erwin Nurdin, Foto Erwin Nurdin, Istimewa on . Posted in Domestic

Bandara Hang Nadim di Batam sekarang ini melayani penerbangan ke 23 bandara di dalam negeri dan satu bandara di luar negeri. Diharapkan ke depannya akan lebih banyak tujuan ke luar negeri, mengingat posisi Hang Nadim strategis untuk penerbangan internasional.
     Direktur BUBU Hang Nadim  Suwarso mengemukakan untuk penerbangan dalam negeri terhitung padat. Hal ini ditunjukkan dengan movement  168 kali per hari. Penambahan movement ini terhitung tinggi. Pada 2013 masih 101 pergerakan pesawat per hari, dan rata-rata selama 2017 sebanyak 133.
“Frekuensi penerbangan tertinggi adalah Jakarta - Batam atau sebaliknya,” kata Suwarso. Ini bisa dimaklumi karena geliat bisnis di Batam sangatlah tinggi mengingat kedekatannya dengan Singapura. Pelaku bisnis di Jakarta banyak yang punya usaha di Batam.
Menurut Suwarso, rute Batam – Jakarta mencapai 14 kali sehari. Selebihnya antara lain Batam – Balikpapan, Batam – Pontianak, Batam – Bali, Batam – Surabaya, Batam – Semarang, Batam – Yogyakarta, Batam – Bandung, Batam – Medan, Batam – Silangit, Batam – Padang, Batam – Bengkulu, Batam – Pekanbaru, Batam – Palembang, Batam – Lampung dan Batam – Natuna. Sementara rute internasional di antaranya Batam – Subang Malaysia.
Dari sejumlah rute itu tercatat pergerakan penumpang di Bandara Internasional Hang Nadim sudah sebanyak 6,326 juta orang (data sampai Desember 2017) naik dibandingkan total tahun 2016 sebanyak 6,136 juta penumpang. Ke depan bandara ini kian sibuk karena prediksi penumpang terus bertambah. Diprediksi pada tahun 2020 jumlah penumpang 7,58 juta, tahun 2025 sudah menyentuh 11, 17 juta penumpang. B

Bandara Hang Nadim : Runway Terpanjang di Indonesia

Ditulis oleh Teks Erwin Nurdin, Foto istimewa on . Posted in Domestic

Bandara Hang Nadim di Batam sampai sekarang masih dikenal sebagai bandara yang memiliki landasan pacu ( runway ) terpanjang di Indonesia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, bandara ini masuk dalam daftar bandara yang memiliki runway terpanjang. Hang Nadim kalah panjang dibandingkan Bandara Kuala Lumpur (KLIA), namun lebih panjang dibandingkan Bandara Changi di Singapura.
Direktur BUBU Hang Nadim, Suwarso, mengemukakan sisi udara bandara itu adalah runway sepanjang 4.025 m x 45 m dengan kekuatan landas pacu PCN 85. Kapasitas apron untuk delapan pesawat berbadan lebar dan lima pesawat berukuran sedang atau 16 pesawat narrow body dan 5 pesawat ukuran sedang.
“Maka dari itu, dengan landasan pacu sepanjang itu bandara ini dinilai cocok untuk hub di Indonesia bagian barat,” kata Suwarso saat bertemu Majalah Bandara belum lama ini. Bahkan Bandara Hang Nadim juga layak untuk hub rute internasional.
Sejak diresmikan, bandara di Batam itu memang dipersiapkan untuk movement tinggi.  Bandara Hang Nadim diresmikan dan mulai beroperasi pada 1 Februari 1984 dan mulai melayani penerbangan internasional pada 5 Januari 1990. Nama Hang Nadim diambil dari nama seorang Laksmana termahsyur di Kesultanan Malaka yaitu Laksmana Hang Nadim.
Namun predikat bandara dengan runway terpanjang di Indonesia tampaknya akan dikalahkan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Bandara ini dibangun dengan total panjang area runway mencapai 5.000 meter. Mencakup area runway sepanjang 3.600 meter, ditambah area runway en safety area (SESA).  B

Sambut Asian Games 2018 : Bandara SMB II Dilengkapi Skybridge

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Yoyoh Sulastri, Istimewa on . Posted in Domestic

Perhelatan event bergengsi berskala internasional Asian Games 2018 akan digelar di dua kota besar, yakni di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus - 02 September 2018.
Sebagai gerbang utama Kota Palembang melalui transportasi udara, pengelola Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II terus melakukan pembenahan pelayanan guna memberikan kenyamanan bagi para peserta dan official Asian Games 2018. Salah satunya adalah terus menggenjot proyek pembangunan skybridge agar selesai sebelum pelaksanaan Asian Games 2018.
Skybridge ini nantinya akan menghubungkan terminal Bandara SMB II menuju Stasiun Light Rail Transit (LRT). Saat ini pembangunan skybridge sudah mencapai 75%.
Excutive General Manager Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Bayuh Iswantoro mengemukakan, bahwa saat ini ia bersama timnya sedang fokus terhadap pembangunan skybridge. “Pembenahan ini kami lakukan untuk memberikan pelayanan yang lebih maksimal. Karena pada perhelatan nanti, para atlet, official, penonton hingga insan media akan mendatangi Palembang melalui Bandara SMB II,” katanya.
Selain skybridge, saat ini pengelola Bandara SMB II juga sedang melakukan pembangunan fixed bridge dan relayout terminal penumpang serta pesawat di bandara yang memiliki panjang landasan pacu 3.000 meter x 45 meter. Juga akan melakukan pembenahan apron dan menambah garbarata. “Delapan garbarata diharapkan sudah bisa beroperasi saat pelaksanaan Asian Games,” ujar Bayuh.
Pembenahan Bandara SMB II dilakukan tidak hanya karena menjelang Asian Games saja. Tetapi juga dilakukan karena tingginya pergerakan penumpang dan pesawat di bandara kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Selain itu, Palembang juga merupakan salah satu kota penghubung penerbangan di wilayah Sumbagsel.
Tercatat, movement di bandara ini menurut Bayuh mencapai 146 per hari untuk pesawat terjadwal. Sedangkan real-nya mencapai 98 flight movement dan jumlah ini akan terus naik seiring dengan tingginya antusias masyarakat terhadap transportasi udara di daerah itu karena banyaknya penerbangan langsung menuju beberapa kota besar di Indonesia maupun menuju negara tetangga. B

Bandara Malikussaleh : Pemda Aceh Utara Akan Serahkan Pengelolaan Malikussaleh ke Kemenhub

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in Domestic

Masyarakat Lhokseumawe dan Aceh Utara sekitarnya akan bisa menikmati bandara yang nyaman dengan naik pesawat sejenis Jet Boeing 737 atau Airbus 310, bilamana  pengelolaan Bandara Malikussaleh diserahkan dari Pemda Aceh Utara ke Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub.
Proses penyerahan ini memasuki tahap verifikasi. Saat ini intensif dilakukan proses verifikasi oleh Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub baik menyangkut aset yang dimiliki bandara tersebut maupun sumber daya manusia dan kelengkapan infrastruktur bandara.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersedia mengelola Bandara Malikussaleh yang berada di Kecamatan Muara Batu untuk pengembangan ke depan. Namun, Kemenhub baru dapat mengembangkan bandara tersebut jika sudah diserahterimakan.
Sebelumnya, pada Mei 2015 lalu, Presiden Joko Widodo menyebutkan akan memperpanjang landasan Bandara Malikussaleh. Namun Kemenhub sulit membangun landasan pacu dan mengelola bandara itu jika belum diserahkan ke pemerintah pusat.
Kemenhub sudah tiga kali menerima surat permohonan dari Bupati Aceh Utara yang meminta agar bandara itu dikelola kementerian. Kemenhub sudah siap mengelola bandara tersebut, tapi harus diserahterimakan dulu. Sebab bandara itu belum bisa dikelola jika belum diserahkan, karena terkait dengan keuangan. Jadi tak bisa dianggarkan dana jika belum menjadi aset pemerintah pusat.
Maka dari itu satu tim yang beranggotakan lintas bidang dari Ditjen Perhubungan Udara di bawah koordinasi Kabag Keuangan Syafruddin pada minggu ketiga bulan lalu berkunjung ke Malikussaleh di Lhokseumawe dan Bandara Rembele Takengon. Tahap awal Malikussaleh akan setingkat Satuan Pelaksana (Satpel) di bawah Bandara Rembele.
”Tim Kemenhub sedang melakukan verifikasi baik segi aset, infrastruktur, SDM sebelum Bandara Malikussaleh diserahkan pengelolaannya ke DJU,” ujar Kabandara Rembele Yan Budianto didampingi Kabag Keuangan Syafruddin dan Kasie Organisasi Bagian Kepegawaian DJU Khaironi kepada Majalah Bandara di Bandara Rembele.
Syafruddin dan tim melakukan pertemuan dengan Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib di Pendopo Bupati Aceh Utara pada Rabu (21/2/2018) malam. Pertemuan tersebut juga dihadiri anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma.
Gerbang Utama
Di Lhokseumawe dikenal memiliki lima industri besar yakni Arun, Mobil Oil, KKA, PIM, dan Pupuk ASEAN. Seiring redupnya kejayaan lima industri tersebut, Malikussaleh diserahkan ke Pemda Aceh Utara sejak 2008 lalu. Saat ini dua maskapai terbang ke Malikussaleh yaitu Wings Air setiap hari dan Garuda Indonesia tiga kali seminggu. Bandara Malikussaleh memiliki runway dengan ukuran 1.850 m x 30 m dan luas apron 150 m x 60 m.
Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf berharap dengan diserahkannya pengelolaan Malikussaleh kepada lembaga yang ahli di bidangnya yakni DJU maka bandara ini akan berkembang dan menjadi gerbang utama ke Aceh Utara dan sekitarnya.
“Malikussaleh memiliki aset lahan 210 ha, jadi bila runway diperpanjang agar pesawat Boeing bisa mendarat di sini tidak ada masalah dengan ketersediaan lahan,” ujar Fauzi Yusuf di Bandara Malikussaleh. B