Bandara Karubaga : Membuka Keterisoliran

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Kabupaten Tolikara adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua dan terletak di Lembah Toli. Berada pada ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut, Tolikara dikelilingi oleh pegunungan hijau dan terjal serta jurang-jurang sempit yang membentengi Lembah Toli.
Akses menuju Tolikara bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi darat, yakni dari Wamena yang memakan waktu tempuh selama 3 – 4 jam perjalanan dengan melewati jalan yang berliku tajam dan terjal. Namun, untuk sampai di Wamena harus melalui Bandara Sentani di Jayapura terlebih dahulu dengan menggunakan transportasi udara yang ditempuh selama 40 menit. Dengan menggunakan transportasi darat, selain memakan waktu yang cukup lama juga menjadi berputar.
Kini, menuju Tolikara juga dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi udara. Hadirnya Bandara Karubaga di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, membuat berbagai kegiatan masyarakat dan Pemda pun menjadi lebih mudah untuk keluar dan masuk dari daerah tersebut. Bandara yang dibangun di atas pegunungan itu memiliki panjang landasan pacu 750 meter x 23 meter, sehingga hanya dapat didarati oleh pesawat perintis saja. Namun demikian, transportasi udara di Tolikara adalah kebutuhan.
Kepala Bandara Karubaga Markus Roni mengemukakan, bahwa saat ini penerbangan di bandara itu sudah dilayani oleh Dimonim Air dengan rute Jayapura – Karubaga PP dan Wamena – Karubaga PP. “Penerbangan perintis di sini sudah jalan dan terbang seminggu dua kali. Untuk rute Wamena – Karubaga adalah subsidi dari APBD Pemda, namun subsidi tersebut belum jalan dan masih menggunakan APBD dari Pemerintah Pusat. Adanya penerbangan ini membuka keterisoliran masyarakat Tolikara,” katanya.
Menurut Markus, meskipun antusias masyarakat terhadap transportasi udara tinggi, namun sayangnya landasan pacu di Bandara Karubaga tidak dapat dikembangkan. Hal ini disebabkan karena di ujung landasan pacu sebelah kanan  berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat, dan ujung landasan pacu sebelah kiri berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat, Pasar Muara Giling Batu serta jurang yang dalam. “Bandara ini tidak dapat dikembangkan. Karena di ujung runway, selain ada pemukiman juga terdapat jurang,” ujarnya.
Selain penerbangan perintis, Bandara Karubaga juga melayani penerbangan charter Susi Air, AMA dan MAF. B

Bandara FL. Tobing : Fasilitas Ditingkatkan, Penerbangan Berkembang

Ditulis oleh Teks Erwin Nurdin, Foto Erwin Nurdin & dok Bandara FL Tobing on . Posted in Domestic

Pergerakan pesawat datang dan pergi di Bandara FL. Tobing kini terus berkembang menyusul ditingkatkannya fasilitas dan infrastruktur di bandara yang menjadi pintu gerbang ke wilayah Tapanuli Tengah itu.
Selain faktor di atas, geliat ekonomi di delapan kabupaten di sekitar Tapanuli Tengah ikut mendorong perkembangan penerbangan tersebut. Masyarakat di delapan kabupaten itu kerap bepergian menggunakan moda udara melalui Bandara FL. Tobing.
Perkembangan penerbangan itu bisa dilihat dari pergerakan pesawat datang dan pergi di Bandara FL. Tobing yang mencapai 24 kali per hari. Atau ada 12 penerbangan yang melayani ke bandara tersebut.
Penerbangan rutin dari Kualanamu, Medan, ke Bandara  FL. Tobing menggunakan pesawat Wings Air dan Garuda Indonesia. Potensi pasar cukup tinggi karena penumpang FL Tobing berasal dari delapan Kabupaten di sekitar Tapanuli Tengah.
Apalagi setelah dibuka penerbangan langsung dari Jakarta – Sibolga yang diterbangi Garuda Indonesia sejak Juli 2014, menggunakan pesawat jenis Bombardir CR-100 kapasitas 98 seat, penumpang meningkat tajam.
Penerbangan langsung Jakarta-Sibolga dan sebaliknya diminati masyarakat. “Hampir setiap penerbangan penuh”, ujar Ambar Suryoko yang kini dipercaya mengemban tugas baru Kabandara Iskandar Pangkalan Bun. Diganti-kan oleh Tipriyanto selaku Plt Kabandara.
Selama empat tahun memimpin FL. Tobing, Ambar tidak hanya berhasil meningkatkan  jumlah pesawat yang terbang, tetapi juga memperluas apron dari 120 m x 80 m menjadi 132 m x 80 m, taxiway dan  merenovasi terminal dari 733 m2 menjadi 1.000m2 sehingga penumpang lebih lega dan nyaman. B

Bandara Iskandar Pangkalan Bun : Hub Baru Kalimantan

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in Domestic

Bandara Iskandar kini memiliki peran strategis dan vital. Fungsinya tidak hanya sekedar pintu gerbang penumpang keluar masuk dari Pangkalan Bun, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah namun juga menjadi pusat distribusi (hub) angkutan di Pulau Kalimantan.
Kepala Bandara Iskandar Ambar Suryoko menyadari peran bandaranya kini sangat strategis menyusul berkembangnya kota Pangkalan Bun sebagai pusat ekonomi baru di wilayah Kalimantan Tengah dan sekitarnya.
Dibandingkan kota-kota disekitarnya, Pangkalan Bun muncul sebagai pusat ekonomi dan distribusi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
“Saya dan jajaran akan bekerja keras memberikan layanan terbaik kepada pengguna jasa Bandara Iskandar sembari membangun dan melengkapi infrastruktur agar penumpang merasa nyaman dalam bepergian dan datang via bandara ini,” ujar Ambar Suryoko, mantan Kabandara FL Tobing yang dinilai sukses,  yang sejak bulan lalu ditunjuk Kementerian Perhubungan sebagai Kabandara baru.  
Pergerakan pesawat datang dan pergi ke Bandara Iskandar kini mencapai 30 movement per hari. Penerbangan dari Jakarta – Pangkalan Bun dilayani antara lain Garuda Indonesia, Nam Air, Trigana dan Wings Air.
Dari Pangkalan Bun, sejumlah kota di Kalimantan terhubung antara lain Ketapang, Pontianak, Sampit, Banjarmasin, Kota Baru dan Palangkaraya. Sementara dari Pangkalan Bun kini calon penumpang bisa terbang langsung ke kota utama di Pulau Jawa seperti Semarang dan Surabaya.
Bandara Iskandar Pangkalan Bun kini memiliki landasan pacu sepanjang 2.250 x 45 meter yang mampu didarati pesawat jenis jet widebody seperti Boeing 737 seri 500. B

Bandara Lasikin : Runway Diperpanjang Jadi 1.710 Meter

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in Domestic

Kementerian Perhubungan akan memperpanjang landasan pacu Bandara Lasikin ditengah meningkatnya arus penumpang dan pergerakan ekonomi di Kepulauan Simeulue
Kepala Bandara Lasikin, Taufik Adiguna mengatakan perpanjangan runway ini sudah termasuk dalam rencana induk (masterplan) bandara yang menjadi pintu gerbang utama ke Kabupaten Kepulauan Simeulue tersebut.
“Runway Lasikin memang akan diperpanjang dari sebelumnya 1.410 m ditambah 300 m, menjadi  1.710 m”, ujar Kabandara Lasikin Taufik Adiguna didampingi Kasi Operasional dan Keamanan Denny Sidabutar.
Terkait rencana itu, Pemda Kabupaten Simeulue sangat mendukung pengembangan Bandara Lasikin dengan memberikan lahan guna pengembangan runway tersebut.
Saat ini penerbangan dari Medan - Lasikin (PP) di layani oleh Wings Air setiap hari. Sedangkan rute Lasikin - Blangpidie - Banda Aceh dan Lasikin - Meulaboh - Banda Aceh dilayani Susi Air.
Bandara Lasikin adalah bandara yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan dan merupakan UPBU Kelas III. Bandara ini terletak di Desa Lasikin, Sinabang, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Bandara Lasikin juga merupakan salah satu bandara yang berada di pulau terluar. B

Bandara Kiwirok : Runway 600 Meter x 18 Meter

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Berada di daerah terisolir dan terdalam tentu tidak mudah untuk mendapatkan kebutuhan logistik. Akses yang sulit, sehingga menghambat arus perpindahan orang dan barang yang menyebabkan harga kebutuhan pokok di daerah tersebut pun melonjak tinggi dan roda perekonomian daerah pun ikut tersendat. Bahkan permasalahan gizi buruk pun kerap terjadi di daerah tersebut. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat kini semakin gencar membangun infrastruktur di daerah itu, salah satunya adalah membangun bandara untuk membuka konektifitas daerah tersebut.
Bandara Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, adalah salah satu bandara perintis yang dibangun oleh Pemerintah Pusat agar daerah yang terisolir dan terdalam dapat dijangkau menggunakan transportasi udara. Sehingga dapat menekan disparitas harga di daerah tersebut. Meskipun runway di bandara ini panjangnya hanya 600 meter x 18 meter saja, tapi bisa didarati oleh pesawat sejenis Grand Caravan.
Kepala Bandara Kiwirok Sidik mengemukakan, untuk menuju ke Kiwirok saat ini hanya dapat ditempuh dengan transportasi udara saja. Medan yang berat, dimana sebelah kanan dan kiri bandara adalah jurang serta tebing yang dalam, membuat penerbangan perintis di bandara itu belum beroperasi. “Saat ini masih dilayani oleh penerbangan charter saja. Untuk penerbangan perintis masih menunggu Pilot yang benar-benar tahu medan penerbangan di sini,” katanya.
Sidik juga menambahkan, penerbangan charter ke Kiwirok tidak setiap hari ada. Untuk sampai di Kiwirok, penerbangan dilakukan dari Bandara Sentani menggunakan pesawat charter AMA, Alfatrans serta Yajasi dan tiket harus dipesan terlebih dahulu. Pesawat akan terbang jika penumpang sudah cukup. “Meskipun sudah booking tiket, tapi tidak langsung terbang. Harus menunggu dulu sampai penumpangnya cukup. Kalau memang mendesak, bisa charter pesawat dan harganya pun tidak murah, sekitar 35 - 39 juta rupiah. Selain terbang dari Sentani, juga bisa lewat Oksibil. Tapi dari ke Oksibil berangkatnya harus lewat Sentani dulu menggunakan pesawat,” jelasnya.
Menurut Sidik, jalur udara adalah satu-satunya akses menuju Kiwirok. Karena jalur darat dari Oksibil menuju Kiwirok yang belum terhubung mengingat medan sangat sulit naik turun gunung. “Kalau mau terhubung darat, maka harus membelah gunung dulu. Begitu pun dengan bandara. Kalau mau memperpanjang runway harus memotong bukit di sebelah kiri, dimana di sebelah kiri tersebut sudah ada pemukiman warga, kantor Polsek dan Koramil. Saya cuma berharap, semoga secepatnya penerbangan perintis dapat beroperasi di sini,” ujar Kabandara. B