Kabupaten Teluk Wondama : Segera Bangun Bandara Baru

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Tingginya anstusias masyarakat terhadap transportasi udara di Kabupaten Teluk Wondama, membuat pengelola Bandara Wasior terus berbenah melakukan berbagai perbaikan dan peningkatan pelayanan bandara. Salah satunya adalah merenovasi terminal dan menyediakan tempat parkir yang saat ini masih menunggu pembebasan lahan dari Pemda.
Kepala Bandara Wasior M. Sarif Hidayat mengemukakan, terminal penumpang yang ada saat ini hanya dapat menampung 20 orang penumpang, sehingga diperlukan perluasan untuk memudahkan pergerakan penumpang. “Kalau mengembangkan bandara menjadi lebih besar itu tidak bisa karena keterbatasan lahan. Tapi kita akan memaksimalkan yang ada, seperti renovasi terminal dan pengadaan X-Ray baru di tahun ini,” katanya.
Lahan yang terbatas dan lokasi  Bandara Wasior saat ini yang pernah diterpa banjir bandang pada tahun 2010 dan 2013 lalu sehingga tidak bisa dikembangkan, membuat Pemerintah Pusat berencana akan membangun bandara baru di Kabupaten Teluk Wondama. Pembangunan bandara baru ini pun atas intruksi Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Teluk Wondama pada 05 April 2016 lalu dalam rangka peresmian Pelabuhan Teluk Wondama. “Saat peresmian pelabuhan, Presiden Joko Widodo menggunakan helicopter dan mendaratkannya di bandara ini. Beliau melihat kondisi bandara secara langsung yang memang sudah tidak bisa dikembangkan. Saat itulah, Presiden menginstruksikan pembangunan bandara baru sebagai pengganti Bandara Wasior yang tidak dapat dikembangkan,” ujar Sarif.
Terkait pembangunan bandara baru, Sarif menjelaskan lebih lanjut, bahwa lokasi bandara baru berjarak 10 km dari bandara yang ada saat ini dan pembangunan bandara baru ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemda Kabupaten Teluk Wondama dengan membebaskan lahan seluas 280 hektar dan mengusahakan pembayaran lahan untuk pembangunan bandara baru secara bertahap mulai tahun ini. “Pemda sudah menyiapkan lahan, hanya saja pembebasan lahan belum dilaksanakan dan masterplan pun sudah ada hanya SK Menteri yang belum turun,” jelas Kabandara.
Menurut Sarif, runway bandara baru ini rencananya akan dibangun sepanjang 1.600 meter sehingga dapat didarati pesawat berbadan besar seperti ATR-72 yang dapat mengangkut penumpang lebih banyak lagi. “Yang pasti bandara baru ini lebih besar dari bandara yang ada saat ini dan runway-nya pun lebih panjang, sehingga pesawat berbadan besar pun dapat mendarat di Teluk Wondama,” tuturnya.
Pembangunan bandaru baru ini diperkirakan rampung dalam waktu lima tahun. Selama lima tahun itu, Sarif dan anggotanya akan memaksimalkan yang ada di Bandara Wasior, seperti menambah frekuensi penerbangan dan meningkatkan kualitas pelayanan bandara. B

Inspektorat V, Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan : Libatkan Masyarakat Dalam Kegiatan Padat Karya

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Rizki Indriyanah dan Istimewa on . Posted in Domestic

Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan dalam menjalani tugasnya terbagi menjadi enam unit eselon II, yaitu Sekretariat Inspektorat Jenderal, Inspektorat I, Inspektorat II, Inspektorat III, Inspektorat IV, dan Inspektorat V. Di mana setiap Inspektorat tersebut memiliki tugas fungsinya dalam mengawasi berbagai subsector yang terdiri dari Darat, Laut, Udara dan Perkeretaapian serta Badan-Badan. Inspektorat V adalah yang mengawasi subsector Perhubungan Udara.
Heri Sudarmaji selaku Inspektur V di Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan mengemukakan, bahwa Inspektorat V bertugas mengawasi subsector Perhubungan Udara yang meliputi sarana prasarana, regulasi dan Sumber Daya Manusia serta aktifitas di sub sektor Perhubungan Udara. “Dalam menjalani tugas dan fungsinya, Inspektorat V menggunakan Skala Prioritas dan Risk Base Audit. Dimana dalam melakukan pengawasan dan audit, tim Inspektorat V melihat lebih dulu mana UPBU atau unit kerja yang memiliki resiko tinggi. “Kami menggunakan Skala Prioritas karena SDM yang terbatas. Sedangkan UPBU atau unit kerja yang tidak dilakukan audit tetap akan kita monitor dengan metode pengisian form terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan dilapangan.
Di samping tugas dan fungsi tersebut, saat ini Inspektorat V juga sedang fokus terhadap kegiatan Padat Karya, dimana kegiatan ini juga masuk ke dalam pengawasan Inspektorat V. Sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, kegiatan Padat Karya ini harus melibatkan atau memberdayakan masyarakat di sekitar bandara dalam membangun dan memelihara bandara. “Dalam kegiatan ini masyarakat juga dilibatkan dan diberdayakan, untuk itu perlu melakukan koordinasi dengan pejabat daerah setempat, seperti Lurah, RW dan RT. Dengan melibatkan masyarakat sekitar bandara, maka akan tumbuh rasa memiliki mereka terhadap bandara dan bersama-sama menjaga lingkungan bandara,” ungkap Heri.
Tahun 2018 adalah tahun pertama kegiatan Padat Karya dilakukan sehingga masih perlu penyempurnaan dalam perencanaan dan pelaksanaanya dilapangan. Namun demikian, bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini mendapatkan upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga dapat mengurangi tuna karya di lingkungan bandara dan kegiatan ini sudah berjalan di beberapa bandara, seperti di Bandara Budiarto di Curug, Banten.
Selain kegiatan Padat Karya sebagai salah satu program Inspektorat V, Heri juga menambahkan bahwa program lainnya adalah meningkatkan safety di lingkungan bandara dan mendorong pembangunan daerah melalui transportasi udara, dalam hal ini Heri menegaskan yang paling penting adalah Pemda harus memikirkan multiplier effect keberadaan bandar udara, antara lain memajukan daerah wisata, industri, pertanian, perdagangan dan lain-lain. Bagi bandara yang belum ada penerbangan, kami akan mendorong agar penerbangan bisa hadir di bandara tersebut. Selain itu, saat ini kami juga sedang mengawasi tujuh Proyek Strategis Nasional (PSN), yaitu Pembangunan Bandara Kulon Progo, Bandara Syamsudin Noor, Bandara Radin Inten II, Bandara Sultan Babullah, Bandara Tjilik Riwut dan Bandara Kertajati. Kami memiliki peran dalam mengawal PSN tersebut agar berjalan lancar sesuai target. tutupnya. B

Direktur Keamanan Penerbangan Nasir Usman :Bukan Dilarang, Tapi Ada Ketentuannya

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Demi keselamatan penerbangan nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengeluarkan surat edaran tentang ketentuan membawa baterai lithium cadangan dan power bank dalam penerbangan. Surat edaran ini ditujukan untuk semua maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang terbang di wilayah Indonesia. Diterbitkannya peraturan ini sebagai upaya nyata Pemerintah dalam memberikan perlindungan keselamatan dan keamanan penerbangan. Mengingat belum lama ini terjadi ledakan power bank yang dibawa oleh salah satu penumpang di dalam penerbangan maskapai China dan power bank tersebut berada di dalam tas jinjing yang diletakkan di hatrack atau cabin pesawat.
Direktur Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan Nasir Usman mengemukakan, bahwa seperti yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso, dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 015 TAHUN 2018 yang ditetapkan pada tanggal 09 Maret 2018 ini berkaitan dengan adanya potensi resiko bahaya meledak/kebakaran pada power bank atau baterai lithium cadangan yang membahayakan keselamatan selama penerbangan. Seperti yang baru-baru ini terjadi dalam sebuah penerbangan di China, yang menjadi alarm seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknologi dan kebiasaan sosial orang membawa power bank kemana-mana, termasuk saat sedang dalam penerbangan.
“Surat edaran ini bukan untuk melarang calon penumpang pesawat membawa  power bank atau baterai lithium ke dalam pesawat, hanya saja ada ketentuannya dalam membawa power bank. Jika power bank atau baterai lithium yang dibawa dengan ukuran daya yang kecil, silahkan dibawa. Tapi dengan perlakuan sesuai dengan aturan penerbangan, yaitu selama penerbangan power bank tersebut tidak boleh disambungkan ke elektronik lain dan disimpan di dalam cabin pesawat bukan di bagasi tercatat. Dengan catatan, penumpang harus melaporkannya kepada petugas bandara dan airlines, bahwa ia membawa power bank,” kata Nasir.
Nasir juga menambahkan, bahwa dalam surat edaran keselamatan ini, maskapai domestik dan asing diinstruksikan untuk menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait kepemilikan power bank atau baterai lithium cadangan. “Dari mulai masuk pintu pemeriksaan pertama, petugas Avsec wajib bertanya kepada calon penumpang pesawat apakah membawa power bank atau baterai lithium cadangan atau tidak. Jika ia membawa, maka calon penumpang tersebut harus melaporkannya ke pihak airlines. Jika pihak airlines tidak mengijinkan, maka power bank atau baterai lithium cadangan tesebut wajib dititipkan ke bandara dan pihak bandara wajib menerima titipan tersebut sampai calon penumpang tersebut kembali ke bandara itu,” ujar Dirkampen.
Power bank atau baterai lithium cadangan yang boleh dibawa adalah yang memiliki daya tidak lebih dari 100 Wh. Sedangkan peralatan  yang mempunyai daya lebih dari 100 Wh (Wh < 100)  tapi tidak lebih dari 160 Wh (100 ≤ Wh ≤ 160) harus mendapatkan persetujuan dari maskapai dan diperbolehkan untuk dibawa maksimal dua unit per penumpang. Untuk peralatan yang mempunyai daya per jam lebih dari 160 Wh (Wh ≥ 160) atau besarnya daya per jam (watt-hour) tidak dapat diidentifikasi, maka peralatan tersebut dilarang dibawa ke pesawat udara.
Nasir juga berharap, agar semua penumpang dapat mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan dalam penerbangan demi keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena keselamatan adalah tanggung jawab bersama, baik regulator, operator maupun penumpang. “Marilah mentaati semua aturan dan ketentuan keamanan penenerbangan demi keselamatan bersama,” tutupnya. B

Garuda Buka Rute Baru : Denpasar – Banyuwangi

Ditulis oleh Zainal Arifin on . Posted in Domestic

Perkembangan dan kemajuan Bandara Banyuwangi selama dua tahun terakhir melaju pesat. Bermula dari overlay runway yang dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sehingga angka PCN meningkat yang mempercepat pembukaan penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi oleh maskapai  Nam Air Jakarta-Banyuwangi, kemudian diikuti Garuda Indonesia dan Citilink.
Executive General Manager Bandara Banyuwangi Dodi Dharma Cahyadi mengatakan  setelah tiga maskapai --Nam Air, Garuda dan Citilink terbang langsung dari Jakarta ke kota di ujung Jawa Timur itu--, kini kembali  Garuda Indonesia mulai 30 Maret tahun ini membuka rute baru dari Denpasar-Banyuwangi.
“Garuda Indonesia mulai 30 Maret 2018 membuka rute baru dari Denpasar ke Banyuwangi menggunakan pesawat ATR 72 seri 500, “ ujar EGM Dodi Dharma Cahyadi kepada Majalah Bandara.
Dodi menjelaskan selain Garuda Indonesia yang membuka rute baru dari Denpasar ke Banyuwangi, Citilink yang baru bulan lalu membuka penerbangan langsung Jakarta ke Banyuwangi juga merencanakan akan menambah frekuensi penerbangan dari satu kali menjadi tiga kali sehari mulai bulan April tahun ini.
“Pasar angkutan udara ke Banyuwangi sangat prospektif, ini terlihat minat airlines terbang ke kota Banyuwangi sangat tinggi sekali,” ujar mantan Kabandara Trunojoyo Sumenep dan Kabandara Dabo Singkep ini.
Dodi Dharma Cahyadi mengatakan selain sebagai jalur utama keluar masuk moda udara di delapan kabupaten di wilayah tersebut, kini terbuka tujuh rute baru yang prospektif. Ketujuh rute tersebut adalah Denpasar-Banyuwangi-Malang, Yogyakarta-Banyuwangi-Yogyakarta dan Banyuwangi-Makassar.
Saat ini movement Bandara Banyuwangi sebanyak 200 kali, 32 kali penerbangan komersial, sisanya 170 kali pesawat latih terbang.
Bandara Banyuwangi kini memiliki panjang runway 2.250 x 45 meter. PT Angkasa Pura II, pengelola baru setelah bandara ini diserahkan pengelolaan oleh Ditjen Perhubungan Udara, akan memperpanjang landasan pacu menjadi 2.600 x 45 meter.
Saat ini Banyuwangi diterbangi empat airlines yakni Garuda Indonesia, Nam Air, Citilink dan Wings Air. B

Angkasa Pura Siapkan Banyuwangi : Jadi Bandara Internasional 2019

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in Domestic

Setelah pengelolaan Bandara Banyuwangi diserah-terimakan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan kepada Angkasa Pura II, kini BUMN itu mempersiapkan Bandara Banyuwangi sebagai bandara bertaraf internasional pada 2019.
Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menjelaskan rencana ini merupakan bagian dari pengembangan bandara ini sebagai salah satu pendukung program Kementerian Pariwisata yang akan mengintegrasikan kawasan Banyuwangi, Bali dan Lombok dalam satu paket kawasan wisata.
“Mudah-mudahan rencana menjadikan Bandara Banyuwangi menjadi internasional airport bisa terwujud pada 2019,” ujar Muhammad Awaluddin pada acara paparan di Angkasa Pura II ‘Airlines Gathering’ 2018, di Bintan Lagoon Resort, Kepulauan Riau, bulan lalu.
Mantan direksi PT Telkom Indonesia ini menjelaskan pengembangan infrastruktur Bandara Banyuwangi juga untuk mendukung acara IMF dan World Bank yang rencananya akan digelar bulan Oktober tahun ini. Pemerintah telah menetapkan dua bandara untuk membantu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, yaitu Bandara Banyuwangi dan Bandara Lombok Raya.
“Pemerintah sudah menetapkan 2 bandara menjadi airport supporting Ngurah Rai, satunya adalah Lombok Raya the first supporting airport dan Banyuwangi akan menjadi second supporting airport,” imbuhnya.
Menurut Awaluddin, salah satu program Kementerian Pariwista yaitu mengintegrasikan kawasan Banyuwangi, Bali dan Lombok menjadi satu paket wisata. Oleh karenanya, infrastruktur bandara menjadi pendukung penting dalam pendukung program pemerintah ini.
“Saya juga sepakat dengan Pak Menpar untuk menjadikan 3 destinasi menjadi 1 paket wisata Bali, Lombok, dan Banyuwangi. Nah untuk ini infrastruktur bandara juga sangat menentukan,” kata dia.B