Bandara Kiwirok : Runway 600 Meter x 18 Meter

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Berada di daerah terisolir dan terdalam tentu tidak mudah untuk mendapatkan kebutuhan logistik. Akses yang sulit, sehingga menghambat arus perpindahan orang dan barang yang menyebabkan harga kebutuhan pokok di daerah tersebut pun melonjak tinggi dan roda perekonomian daerah pun ikut tersendat. Bahkan permasalahan gizi buruk pun kerap terjadi di daerah tersebut. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat kini semakin gencar membangun infrastruktur di daerah itu, salah satunya adalah membangun bandara untuk membuka konektifitas daerah tersebut.
Bandara Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, adalah salah satu bandara perintis yang dibangun oleh Pemerintah Pusat agar daerah yang terisolir dan terdalam dapat dijangkau menggunakan transportasi udara. Sehingga dapat menekan disparitas harga di daerah tersebut. Meskipun runway di bandara ini panjangnya hanya 600 meter x 18 meter saja, tapi bisa didarati oleh pesawat sejenis Grand Caravan.
Kepala Bandara Kiwirok Sidik mengemukakan, untuk menuju ke Kiwirok saat ini hanya dapat ditempuh dengan transportasi udara saja. Medan yang berat, dimana sebelah kanan dan kiri bandara adalah jurang serta tebing yang dalam, membuat penerbangan perintis di bandara itu belum beroperasi. “Saat ini masih dilayani oleh penerbangan charter saja. Untuk penerbangan perintis masih menunggu Pilot yang benar-benar tahu medan penerbangan di sini,” katanya.
Sidik juga menambahkan, penerbangan charter ke Kiwirok tidak setiap hari ada. Untuk sampai di Kiwirok, penerbangan dilakukan dari Bandara Sentani menggunakan pesawat charter AMA, Alfatrans serta Yajasi dan tiket harus dipesan terlebih dahulu. Pesawat akan terbang jika penumpang sudah cukup. “Meskipun sudah booking tiket, tapi tidak langsung terbang. Harus menunggu dulu sampai penumpangnya cukup. Kalau memang mendesak, bisa charter pesawat dan harganya pun tidak murah, sekitar 35 - 39 juta rupiah. Selain terbang dari Sentani, juga bisa lewat Oksibil. Tapi dari ke Oksibil berangkatnya harus lewat Sentani dulu menggunakan pesawat,” jelasnya.
Menurut Sidik, jalur udara adalah satu-satunya akses menuju Kiwirok. Karena jalur darat dari Oksibil menuju Kiwirok yang belum terhubung mengingat medan sangat sulit naik turun gunung. “Kalau mau terhubung darat, maka harus membelah gunung dulu. Begitu pun dengan bandara. Kalau mau memperpanjang runway harus memotong bukit di sebelah kiri, dimana di sebelah kiri tersebut sudah ada pemukiman warga, kantor Polsek dan Koramil. Saya cuma berharap, semoga secepatnya penerbangan perintis dapat beroperasi di sini,” ujar Kabandara. B