Direktorat Jenderal Perhubungan Udara : Kembangkan Bandara di Wilayah Selatan Jawa

Ditulis oleh Teks dan Foto Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Wilayah selatan Pulau Jawa yang membentang dari Pandeglang – Banten hingga Banyuwangi – Jawa Timur, memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sektor pariwisata, jumlah penduduk dan bidang perekonomian lainnya. Namun sayangnya, potensi-potensi di wilayah tersebut belum bisa dikembangkan secara optimal karena konektivitas transportasi di wilayah tersebut masih kurang.
Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan akan menginisiasi pembangunan konektivitas transportasi di wilayah selatan Jawa dengan membangun jalur udara di wilayah tersebut. Konektivitas tersebut akan ditumbuhkan dengan pembangunan tol udara yang terdiri dari bandar udara dan ruang udara serta navigasi penerbangan di wilayah tersebut.
Dalam acara Media Workshop yang mengambil tema Optimalisasi Jalur Selatan Jawa Guna Meningkatkan Perekonomian Ekonomi di Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya, pada 25 – 27 Januari 2018, Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agoes Soebagio yang mewakili Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengemukakan bahwa pengembangan bandara beserta navigasi penerbangannya tersebut akan mengacu pada tatanan kebandarudaraan nasional yang tertuang dalam UU no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. “Untuk pengembangan tol udara tersebut, kami akan bekerjasama dengan AirNav sebagai penyelenggara navigasi penerbangan, TNI AU yang saat ini memiliki beberapa pangkalan udara di wilayah selatan Jawa serta Pemda setempat,” ujar Agoes.
Menurut Agoes, Ditjen Perhubungan Udara akan menginisiasi pembangunan serta pengembangan bandara di wilayah selatan Jawa dan mengkoneksikan dengan bandara-bandara di wilayah utara Jawa sehingga konektivitas  berimbang antara wilayah selatan dan wilayah utara serta terjadi konektivitas antara dua wilayah tersebut hingga bisa membuat pembangunan perekonomian lebih merata. “Dengan adanya pembangunan bandara baru, perekonomian akan tumbuh dan membuat maskapai penerbangan bisa membuka konektivitas  dengan membuka rute-rute baru. Pada tahun 2017 lalu, kami sudah membuka 83 rute baru di seluruh Indonesia. Hal ini menandakan bahwa perekonomian di daerah tersebut sudah tumbuh,” lanjutnya.
Agoes juga menjelaskan lebih lanjut, bahwa saat ini terdapat 11 bandara komersial eksisting dan akan dikembangkan di wilayah utara Jawa, yaitu Bandara Soekarno – Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Cakrabhuwana di Cirebon, Bandara Dewadaru di Karimun Jawa, Bandara Ahmad Yani di Semarang, Bandara Adi Soemarmo di Solo, Bandara Ngoloram di Blora, Bandara Bawean di Madura, Bandara Trunojoyo di Madura dan Bandara Juanda di Surabaya.
Sedangkan di wilayah selatan Jawa saat ini baru terdapat tujuh bandara komersial yaitu Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya, Bandara Nusawiru di Pangandaran, Bandara Tunggul Wulung di Cilacap, Bandara Adisutjipto di Yogyakarta, Bandara Abdulrachman Saleh di Malang, Bandara Notohadinegoro di Jember dan Bandara Banyuwangi.
Agoes juga menambahkan, bahwa Ditjen Perhubungan Udara akan menginisiasi pembangunan dan pengembangan empat bandara di wilayah selatan Jawa, yaitu bandara di daerah Pandeglang - Banten, di daerah Sukabumi, bandara baru di Yogyakarta dan di daerah Kediri serta Tulungagung. Selain itu Ditjen Perhubungan Udara juga akan bekerjasama dengan TNI AU, AirNav Indonesia, pengelola bandara dan Pemda setempat. “Kerjasama tersebut untuk memastikan pengembangan dan pembangunan bandara berlangsung dengan baik dan tepat waktu serta sesuai dengan prinsip keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan” pungkas Agoes. B