FAST

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Di beberapa bandara persoalan check in acap bikin kesal. Calon penumpang harus antre panjang, tetapi saat antre ada saja yang main serobot. Siapa yang tidak kesal, sudah lama antre tiba-tiba diserobot oleh oknum yang punya kuasa? Maka dari itu, naik pesawat memang harus ada tenggat cukup lama, tidak bisa mepet seperti naik kereta api. Pesawat butuh antre check in dan pemeriksaan, kereta tidak perlu keduanya.
Namun jika ke depan pelayanan naik pesawat bisa cepat seperti kereta, tentu lebih bagus lagi. Misalkan, jam keberangkatan 16.30, calon penumpang bisa masuk stasiun pukul 16.00. Praktis bukan? Bandingkan dengan pesawat, adakalannya menunggu boarding saja bisa satu jam, dan cilakanya kena delay pula!
Teknologi untuk mempercepatnya sudah tersedia dan dibuktikan di Terminal 4 Bandara Changi di Singapura. Terminal 4 baru saja dibuka dan calon penumpang dibuat takjub atas inovasi dan teknologinya, walau masih ada sebagian calon penumpang yang gagap. Kecepatan pelayanan dibungkus dengan konsep FAST.
Terminal 4  Bandara Changi menawarkan konsep Fast and Seamless Travel (FAST) sehingga  proses check in dijamin sangat cepat. Konsep FAST ini membuat proses akan lebih cepat dengan adanya teknologi pengenalan wajah (facial recognition) dengan opsi self-service dari awal hingga akhir.
“Seberapa lama seluruh proses? Kalau dia ( calon penumpang ) tidak belanja dan sangat cepat. Kami rasa itu bisa dilakukan sekitar 10 hingga 20 menit. Sangat cepat. Jika kamu sampai di bandara kemudian check in, lalu melalui berbagai pemeriksaan dan berlari menuju ke pintu masuk pesawat, kami rasa itu sangat cepat,” ujar Neo Su Yin, General Manager T4 Programme Management Office, saat memandu media preview di T4 belum lama ini.
Su Yin menambahkan dengan adanya penggunaan teknologi mutakhir itu, penumpang  akan secara bebas untuk melakukan check-in tanpa harus menunggu counter dibuka. Opsi self-service ini pun tersedia pada setiap tahapan keberangkatan dari check-in, penurunan bagasi, imigrasi hingga boarding.
FAST ini dihadirkan di T4 untuk meningkatkan efisiensi operasional dan meningkatkan produktivitas. Penggunaan teknologi canggih  menghemat tenaga kerja sekitar 20 persen ketika operasional di terminal berkapasitas 16 juta ini telah stabil.
Konsep FAST sudah saatnya ditiru di bandara di Indonesia. Selain meningkatkan pelayanan, juga untuk meredam kekesalan saat-saat check in. Cuma perlu dipikirkan dampak yang akan terjadi. Semisal semakin cepat pelayanan check in dan pemeriksaan membuat calon penumpang enggan berlama-lama di bandara. Buntutnya tempat belanja dan kuliner di bandara akan mulai ditinggalkan pelanggan. Jangan sampai kasus taksi atau ojek online terulang di bandara, di mana korban teknologi akan demo ramai-ramai minta perhatian pemerintah. B

Porter

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto istimewa on . Posted in airport-services

Di sebuah bandara internasional di Indonesia, seorang penumpang baru saja mendarat dari perjalanan bisnisnya di Ibukota. Ia bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Sebelumnya ia mencari troli karena bagasinya memang terhitung banyak. Namun betapa sebalnya penumpang itu karena troli sudah tidak ada. Kalaupun ada, troli itu sudah “dikuasai” para porter. Mereka masing - masing memegang troli,  bahkan dengan tenangnya duduk di troli, sembari menawarkan jasanya, “Pak perlu bantuan bawa barang?”.
Penumpang yang kesulitan mencari troli akhirnya mau tak mau menerima tawaran jasa itu. Pertimbangannya sederhana, tak ada troli porterpun jadi. Kalau saja masih ada troli, penumpang tadi bisa jadi membawa sendiri barangnya.
Pengalaman penumpang dengan porter memang beragam. Selain kesulitan memperoleh troli seperti penumpang tadi, ada juga yang merasa terganggu dengan cara porter yang menawarkan jasanya. Seorang penumpang mengaku acap emosi ketika ditawari bantuan dari porter karena setengah memaksa. Begitulah gaya porter, jika mereka tidak agresif maka pendapatan juga berkurang. Mereka hanya tergantung tips dari penumpang yang menggunakan jasa mereka.
Namun sejak 1 September 2017, khususnya di Bandara Soekarno - Hatta, porter mulai digaji. Mereka tidak dibayar oleh penumpang maupun menerima tips dari penumpang.
 PT Angkasa Pura II Solusi, yang merupakan anak perusahaan PT Angkasa Pura II, mengatur pendapatan para porter yang selama ini mengandalkan tips dan target. Airport helper dan pengumpul troli ini akan digaji sesuai dengan UMR sehingga kini penumpang di Bandara Soekarno - Hatta tidak perlu memberikan tips untuk mendapatkan bantuan mengangkut barang bawaannya. Artinya jasa tenaga angkut barang (porter) di Terminal I dan II Bandara Soekarno - Hatta digratiskan mulai 1 September 2017. Selama ini kebijakan jasa angkut barang gratis hanya berlaku di Terminal III yang melayani Penerbangan Internasional dan domestik.
Pemberitahuan juga  tampak di monitor informasi jadwal penerbangan di area keberangkatan. Tertulis ‘Mulai 1 September Jasa Porter Dialihkan Menjadi Airport Helper/Starting From 1st September Porter Services Become Airport Helper’ berupa running text di bagian bawah layar.
Mulai tanggal itu  jasa porter di Terminal 1 dan Terminal 2 diubah menjadi layanan airport helper. Pengubahan nama bukan sekadar tanpa dikenakan biaya alias free of charge and no tipping, tetapi skala jasa juga meluas.
Pekerjaan airport helper di Terminal 1, 2, dan 3 Bandara Soekarno - Hatta serupa dengan tugas porter yang sebelumnya berada di tiap bandara dan terminal. Namun, selain tugas utamanya yang membantu mengangkut barang calon penumpang, airport helper dibekali tanggung jawab lain saat bekerja.
Satu hal yang patut diantisipasi adalah gaya para airport helper saat membantu penumpang. Jangan sampai karena “no tipping” akhirnya mereka ogah - ogahan. Seperti  dialami penumpang tujuan Manado di Bandara  Soekarno - Hatta. Saat datang di area drop off, penumpang itu menggunakan  mobil rental. Dari dalam mobil ia mengeluarkan karung besar berwarna putih. Namun ia memindahkan karung itu seorang diri. Tidak ada porter yang menghampiri walau tampak ada seorang porter di dekatnya.
Saat ditanya soal layanan porter gratis itu, ia mengaku sudah tahu. “Iya, tahu kalau gratis. Nggak bayar. Tapi mana, tadi nggak ada yang dekatin,” ujarnya di sebuah portal berita.
Mudah - mudahan airport helper tetap membuat nyaman Bandara Soekarno - Hatta. Mereka tidak ogah - ogahan karena merasa sudah mulai memperoleh gaji. Mudah - mudahan pula bandara lain mengikuti  langkah konkret Manajemen Bandara Soekarno - Hatta. (tis)

Avsec

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto on . Posted in airport-services

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan seorang istri jenderal menampar petugas Avsec  bandar udara. Tindakan semena-mena itu membuat khalayak marah terhadap istri jenderal tadi. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merasa prihatin dan minta diproses hukum. Sayangnya proses hukum tidak berlanjut karena konon keduanya memilih penyelesaian kekeluargaan. Istri jenderal minta maaf dan korbanpun memaafkannya. Publik kecewa, tidak ada pembelajaran dari kasus itu.
Belum reda kasus istri jenderal, peristiwa serupa terjadi di bandara lain. Kali itu oknum dokter tentara giliran melakukan tindakan kekerasan terhadap petugas Avsec. Beritanya sempat mengemuka sejenak, tetapi kemudian menghilang tanpa ketahuan penyelesaiannya. Lagi-lagi publik kecewa.
Sebenarnya publik ingin ada penanganan secara hukum dalam rangka membangun efek  jera. Entahlah, barangkali karena pertimbangan lain maka kasus macam itu diselesaikan begitu saja. Tentu saja ke depan akan membahayakan bagi para petugas Avsec karena bisa saja melawan petugas dianggap biasa. Padahal tugas Avsec terhitung berat, keamanan bandara sangat tergantung mereka.
Di setiap bandara   terdapat personel-personel yang tugasnya menjaga keamanan, baik di sisi darat (landside) seperti terminal, maupun di sisi udara (airside), seperti landasan pacu (runway), apron dan taxiway. Personel ini dikenal sebagai Aviation Security (Avsec).
Terdapat tiga tingkatan personel Avsec. Satu Basic Avsec. Kedua, Junior Avsec. Dan ketiga Senior Avsec. Untuk Basic Avsec memiliki tugas yaitu untuk melihat profiling seseorang.  Mereka memeriksa orang secara manual. Memeriksa tubuh, melihat wajahnya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak, pemeriksaan dari kaki sampai ke atas.
 Junior Avsec memiliki tugas yaitu mengoperasikan perangkat X-Ray dan memantaunya di monitor. Minimal dia punya sertifikat Junior Avsec. Kemudian Senior Avsec bertugas sebagai supervisor, yaitu mengawasi cara kerja para avsec secara keseluruhan.
Tidak sembarangan untuk menjadi seorang Avsec. Harus dilihat secara signifikan background check-nya. Seperti apakah ada criminal record yang pernah dilakukan sebelumnya. Mereka kemudian ikut pendidikan kelembagaan training avsec yang sudah disertifikasi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
Avsec itu harus memiliki lisensi / STKP (Surat Tanda Kecakapan Personal) dengan mengikuti Diklat terlebih dahulu. Tugas mereka berpedoman kepada Regulasi Internasional ICAO (International Civil Aviation Organitation).
Atas dasar tanggung jawab terhadap tugas, apalagi harus mengikuti standard internasional, wajar saja jika mereka meneliti setiap penumpang  secara ketat. Hal inilah yang seharusnya dipahami para penumpang. Jangan emosi jika diminta melepas ikat pinggang, arloji atau bahkan membuka koper. Kecuali Kepala Negara, semua harus melewati pemeriksaan itu.
Bilamana saling memahami atas tugas Avsec, rasanya tak perlu ada petugas yang ditampar. Apalagi jika disertai efek jera. Sayang, efek jera itu belum ada. ( tis )

Demo

Ditulis oleh Toto TIS Suparto on . Posted in airport-services

Sabtu, pertengahan Mei lalu, di Bandara Sam Ratulangi terjadi kegaduhan. Sekelompok orang masuk ke terminal kedatangan agak memaksa. Wajah mereka menunjukkan kemarahan. Ternyata mereka sedang berdemo untuk menolak kedatangan salah seorang  Wakil Ketua DPR yang  berkunjung ke kota Manado. Massa tidak bisa menyembunyikan keberingasan mereka. Bahkan pendemo sampai masuk ke apron, alias parkiran pesawat yang seharusnya adalah restricted area alias steril.
Sudah barang tentu demo itu menyusahkan pengguna jasa bandara. Kenyamanan penumpang terganggu.  Pengguna jasa bandara pun mulai khawatir, bandara sebagai fasilitas umum sudah dinodai “kegaduhan politik”. Kekhawatiran itu memang layak direspons oleh pembuat kebijakan. Selama ini, yang namanya demo selalu mengganggu kepentingan umum. Lihat saja, jalanan acap macet lantaran ada demo.
Beruntung Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi cepat tanggap. Menhub segera melayangkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2017 yang dikeluarkan pada 18 Mei 2017. Inti dari surat edaran itu bahwa penyampaian pendapat di muka umum sebaiknya dilaksanakan di tempat-tempat terbuka untuk umum kecuali di lingkungan Istana Kepresidenan, tempat ibadah, instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api, terminal angkutan darat dan obyek vital nasional.
Dalam surat edaran, dijelaskan bahwa bandara, pelabuhan, stasiun kereta api dan terminal angkutan adalah obyek vital transportasi sehingga tempat tersebut harus dilindungi dari gangguan keamanan. Kemenhub menghargai dan menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum tapi tidak di tempat strategis yang dapat mengganggu pelayanan publik. Nantinya, pengelola bandara, stasiun kereta api dan terminal akan berkoordinasi dengan pihak TNI dan kepolisian terkait pengamanan.
Berikut poin penting surat edaran dari Menhub terkait larangan penyampaian pendapat di muka umum pada obyek vital transportasi nasional:
Bandar udara, pelabuhan dan stasiun kereta api dan terminal merupakan obyek vital yang strategis yang harus dilindungi dari gangguan keamanan guna menjamin ketertiban dan keamanan di wilayah obyek vital transportasi nasional dimaksud.
Sehubungan dengan hal tersebut, agar para pimpinan unit kerja yang terkait dengan obyek vital transportasi nasional, mengambil langkah sebagai berikut
a.     mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di wilayahnya masing-masing dengan melakukan pengetatan pemeriksaan terhadap setiap orang dan/ atau barang yang masuk/ keluar dari/ ke wilayah obyek vital transportasi nasional sesuai ketentuan yang berlaku.
b.     melakukan koordinasi dengan instansi terkait termasuk dalam hal ini dengan pihak TNI dan Kepolisian Negara RI.
Surat edaran itu menjadi pegangan bagi operator bandara bilaman suatu waktu terjadi demo di lingkungan bandara. Setidaknya menangkal demo bukanlah melawan demokrasi. Hal terpenting dalam hal ini  antara lain melindungi tempat vital bagi masyarakat. Apa jadinya bila atas dasar dali demokrasi, lalu sejumlah pendemo mengganggu apron?
Semoga kasus di Bandara Sam Ratulangi tidak akan terulang lagi di bandara lain. Silakan menyampaikan pendapat, tetapi selayaknya dihormati fungsi bandara semustinya. Apalagi saat ini pemerintah sedang berupaya maksimal untuk membuat nyaman dan aman bandara bagi para pengguna jasanya. (tis)

Terminal

Ditulis oleh Toto TIS Suparto on . Posted in airport-services

Suatu pagi, pertengahan April  2017, terminal di sebuah bandara internasional di Jawa tampak padat. Masuk ke terminal keberangkatan saja harus antre panjang. Beberapa penumpang tampak panik. Mereka yang datang ke bandara dengan jeda waktu pendek dari jam keberangkatan adalah yang tampak panik. Kemudian mereka ambil jalan pintas, menerobos antrean. “Aduh maaf....saya terlambat,” katanya sembari memotong antrean dan kemudian meyakinkan petugas agar bisa masuk.
Begitulah cuplikan aktivitas di terminal bandara. Tatkala kondisi terminal terbatas, sementara jumlah penumpang membludak, maka berubahlah terminal bandara menjadi “pasar”. Berjubel dan sangat tidak nyaman. Inilah fenomena di sejumlah bandara besar. Ketika transportasi moda udara bukan lagi sesuatu yang mewah, maka pengelola bandara dituntut untuk menyediakan terminal yang layak. Tanpa ada pembenahan, pengguna jasa akan komplain.
Terminal merupakan sarana pertama yang besentuhan dengan penumpang. Sesuai dengan fungsinya, terminal bandara merupakan prasarana transportasi di kawasan lapangan terbang dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat naik turun penumpang, bongkar muat barang dan/atau pos, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan  penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
Di terminal, penumpang mengurus tiket, menitipkan bagasinya, dan diperiksa pihak keamanan. Bandara kecil memiliki sebuah terminal, sementara bandara besar memiliki beberapa terminal dan/atau concourse. Di bandara kecil, bangunan terminal tunggal melayani semua fungsi sebuah terminal dan concourse. Beberapa bandara besar memiliki lebih dari satu terminal, masing-masing dengan satu concourse atau lebih. Bandara Soekarno-Hatta, misalkan, memiliki lebih dari satu terminal. Terbaru adalah Terminal 3.
Terminal yang memiliki panjang sekitar 1 kilometer dan luas bangunan‎ 422.804 m2 ini memang tergolong megah. Terminal ini berkonsep modern dan menerapkan beberapa teknologi yang mumpuni. Contoh saja dari segi keamanan para penumpang. Dalam terminal ini  dilengkapi puluhan CCTV yang siap memantau pergerakan setiap penumpang.
Kemegahan dan kecanggihan Terminal  3 itu bukan sekadar membuat penumpang nyaman. Namun ada sisi lain, bahwa kemegahan terminal itu sekaligus menjadi etalase negara. Tatkala orang asing masuk ke terminal, mereka akan bisa segera menilai suatu bangsa. Oleh karena itu, ada benarnya jika Terminal 3 dibuat megah dan canggih karena sekaligus menampakkan wajah depan Indonesia.
Demikian pula di daerah. Terminal bandara menjadi wajah daerah bersangkutan. Ketika penumpang disuguhi terminal yang sesak, kumuh dan tidak aman, maka akan membuat pengguna jasa enggan datang lagi ke bandara tersebut. “Ah bandaranya kurang memadai, rasanya kurang nyaman datang ke kota ini,” begitu komentar pengguna jasa bandara ketika pertama kali mendarat di sebuah bandara dengan terminal seadanya.
Memang, masih tarik ulur dalam pengembangan bandara, bikin bagus terminalnya atau memperpanjang landas pacu? Ada yang berpandangan perpanjang runway dulu, agar pesawat besar bisa mendarat. Ketika pesawat berbadan besar mendarat, berarti jumlah penumpang yang terangkut lebih banyak. Namun jika penumpang bertambah, sedangkan kapasitas terminal  tetap, maka penumpang itu akan melebihi kapasitas.
Idealnya, pengembangan sisi udara dan sisi darat memang berbarengan. Namun kendala anggaran sering menjadi rintangan. Apapun pilihan prioritas pengembangan, setidaknya Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta bisa menjadi inspirasi bahwa terminal bandara selayaknya menjadi kebanggaan daerah. Terminal adalah etalase daerah bersangkutan. ( tis )