Citilink Terbang Langsung Jakarta-Banyuwangi Teks dan Foto Erwin Nurdin

Ditulis oleh Teks dan Foto Erwin Nurdin on . Posted in airport-services

Maskapai penerbangan nasional Citilink membuka rute baru direct flight Jakarta-Banyuwangi PP. Acara inaugural flight Citilink dengan menggunakan pesawat jenis B737-500, berlangsung di koridor Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta, Kamis siang (15/2/2018).
Hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Dirut AP II, Muhammad Awaluddin, dan Dirut PT Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahyo.
Menpar Arief Yahya mengapresiasi Citilink membuka penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi mengikuti perusahaaan induknya Garuda Indonesia maupun perusahaan airlines lainnya NAM Air dan Wings Air yang lebih dahulu membuka rute yang sama tahun lalu.
“Rute Jakarta-Banyuwangi memiliki potensi pasar yang menjanjikan karena sektor pariwisata, dunia usaha, dan sektor pendidikan di Banyuwangi terus berkembang,” kata Menpar Arief Yahya dalam siaran pers yang diterima Majalah Bandara belum lama ini.
Dirut PT Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahyo mengatakan Citilink sebagai Unit Bisnis Strategis (SBU) dan difungsikan sebagai salah satu alternatif penerbangan bertarif rendah di Indonesia, siap mendukung program Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia.
 “Hingga Agustus 2017 Citilink telah melayani penerbangan ke-31 kota, dengan 63 rute dan lebih dari 244 frekuensi penerbangan setiap harinya,” kata Juliandra Nurtjahyo.
Juliandra Nurtjahyo menjelaskan untuk menerbangi ke 31 kota tujuan, di antaranya adalah destinasi wisata unggulan, Citilink mengoperasikan 50 pesawat seri Airbus A320 (berkapasitas 180 penumpang) termasuk di dalamnya pesawat Airbus A320NEO yang datang melengkapi armada Citilink sejak Januari 2017. “Citilink maskapai pertama yang menggunakan pesawat seri A320NEO ini,” kata Juliandra Nurtjahyo. B

Menhub Budi Karya: Pasar Domestik Juga Butuh N219

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengapresiasi  langkah PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang gencar mempromosikan pesawat N219 untuk pasar luar negeri, namun begitu diingatkan agar tidak lupa menggarap pasar domestik.
Apresiasi itu disampaikan Menhub saat meninjau langsung gerai PT Dirgantara Indonesia dalam acara Singapore Airshow 2018, Selasa (6/2/2018), di Singapura. Saat ini pesawat N219 masih dalam tahap sertifikasi oleh Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
“Setelah bisa pasarkan di luar negeri, kita harus pakai ini. Kita tahu di Papua, Kalimantan Utara, Aceh butuh pesawat kapasitas 14 orang, satu kemampuan yang bisa mendarat di landasan pendek dan bahan bakar efisien ini menjadi catatan keunggulan N219,” kata Menhub mengungkapkan keunggulan N219. Maka dari itu Menhub senantiasa memperkenalkan pesawat N219 dalam berbagai kesempatan. Tidak hanya ke negara-negara luar tapi juga ke pemerintah daerah di Indonesia. “Gubernur kalau datang saya tawarkan untuk membeli. Sehingga nantinya mereka tidak bergantung lagi”.
Namun begitu Menhub mengingatkan pula langkah-langkah ideal jika pemerintah daerah akan membeli N219 ini. Misalnya, lanjut Menhub, lima  kabupaten punya lima pesawat dikelola oleh satu  company. Langkah  itu lebih baik daripada satu  kabupaten punya satu pesawat sehingga pengoperasian, maintenance menjadi lebih efisien.
Terkait pasar dalam negeri, Direktur Utama PTDI Elfien Guntoro mengemukakan beberapa yang sudah memesan N219 diantaranya BUMN Pelita, maskapai Trigana, Pemda Aceh, Pemda Kaltara, dan Pemda Papua. Ia menambahkan tahun 2018 ini ditargetkan sebanyak 100 pesawat N219 dipesan.“Target minimal 100 unit pesawat N219 tahun ini agar bisa produksi yang lebih efisien. Kita targetkan dalam 1 bulan 4 (pesawat diproduksi) untuk target 3 tahun depan,” katanya. Saat ini sudah banyak negara yang memesan pesawat N219 Nurtanio seperti Turki, Malaysia, Vietnam, China, dan beberapa negara lainnya. (*/B)

Target OTP pada 2019 Capai 88%

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Terkait pelayanan maskapai itu, maka akan bersinggungan dengan tolok ukur OTP. Dirjen Perhubungan Udara juga berbicara soal OTP ini.
Target ketepatan waktu atau On Time Performance (OTP)  penerbangan Indonesia tahun 2019 dalam review Renstra DJU Tahun 2015 -2019 adalah sebesar 88%. Sementara itu  OTP maskapai penerbangan pada tahun 2017 mencapai 80,14 persen atau 664.024 penerbangan tepat waktu dari total 828.609 penerbangan yang dilakukan. Presentase tersebut turun sekitar 2,5 persen dibanding tahun 2016 lalu dimana OTP tahun 2016 mencapai 82,67 persen atau 631.216 penerbangan dari total 763.522 penerbangan.
Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menjelaskan soal OTP saat berbicara pada acara Expert Talk: Aviation Industri di Hotel Margo, Depok. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Indonesia.
“Ketepatan waktu adalah salah satu pelayanan kepada penumpang yang sangat penting. Karena penumpang pesawat sejatinya membeli waktu penerbangan, selain membeli rute yang dibutuhkan. Dengan waktu penerbangan yang on-time, penumpang bisa menjalankan jadwal kegiatannya dengan tepat waktu juga,” kata Agus.
Terpisah dari acara tersebut, jika mengutip laporan Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, dicatat adanya keterlambatan penerbangan (delay) tahun 2017 yang mencapai159.153 penerbangan atau 19,21 persen, serta pembatalan (cancel) penerbangan mencapai 5.432 penerbangan atau 0,66 persen dari total penerbangan domestik.
Penyebab delay dan cancel pada tahun 2017 lalu masih didominasi oleh faktor non teknis operasional (terkait dengan maskapai penerbangan) yaitu 9,67 persen atau 80.094 penerbangan. Disusul oleh faktor teknis operasional (terkait dengan bandar udara) sebesar 6,43 persen atau 53.250 penerbangan, faktor lain 1,68 persen (13.931 penerbangan) dan faktor cuaca 1,43 persen (11.879 penerbangan).
Selain soal OTP, Dirjen Agus Santoso mengemukakan beberapa persoalan penerbangan,  di antaranya terkait dengan kepadatan lalu lintas ruang udara yang ada saat ini, keterbatasan penggunaan ruang udara dengan adanya military training area di Yogya, Madiun dan Malan, rata-rata pertumbuhan penumpang sebesar 9.45% tiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan rute sebesar 8.67% tiap tahun, aksesibilitas dan efisiensi pelayanan bandara, serta keamanan dan keselamatan penerbangan di Papua. (*/B)

Tahun 2017 Penumpang Pesawat 128 Juta

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Total jumlah penumpang yang diangkut pesawat selama tahun 2017 mencapai 128 juta orang. Mereka terbang pada rute domestik dan internasional. Untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang diperlukan kesiapan bandara.
Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menyampaikan beberapa hal yang telah berhasil dicapai oleh penerbangan Indonesia. Di antaranya adalah  total jumlah penumpang pesawat yang diangkut tahun 2017 mencapai 128 juta penumpang domestik dan internasional. Kemudian kargo yang diangkut mencapai 1,1 juta ton sebanyak 509 rute. Sedangkan pada tahun 2016 sekitar 116,8 juta penumpang dan kargo yang diangkut sebanyak 1 juta ton sebanyak 471 rute.
“Untuk mengantisipasi jumlah penumpang yang semakin bertambah, perlu ditunjang kesiapan bandaranya,” jelas Dirjen di Jakarta, Selasa (20/2/2018), saat menjadi pembicara kunci pada acara Expert Talk: Aviation Industri di Hotel Margo, Depok. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Indonesia ini dalam rangka Industrial And Systems Engineering Competition (ISEEC) 2018. ISEEC merupakan lomba internasional terkait keilmuan teknik industri.
Kesiapan bandara, lanjut Dirjen sebagaimana dimuat pada laman dephub.go.id,  baik dari segi penyediaan dan peningkatan kapasitas bandara beserta fasilitas yang menunjang. Juga perlu peningkatan segi kualitas pelayanan bandar udara mulai dari kedatangan hingga keberangkatan penumpang.
“Selain itu, peningkatan jumlah penumpang, membuat banyak maskapai penerbangan didirikan namun juga berimbas semakin ketat persaingan antarmaskapai. Untuk itu setiap maskapai harus selalu meningkatkan pelayanan penumpang selama di darat dan udara,” katanya.(*/B)

Menhub : Sanksi Tak Gegabah

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan dalam memberikan sanksi terhadap kontraktor tidaklah gegabah. Termasuk kepada kontraktor pengerjaan tol Becakayu yang terindikasi terdapat overwork.
Menhub menyatakan terkait dengan sanksi bahwa pihaknya akan secara tepat memutuskan. Sebab ia tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah.
“Kita tidak mau gegabah langsung sanksi semua, kita lihat lebih dalam yang salah konsultan pengawasan atau kontraktor. Konsultan itu institusi atau orangnya karena ini kan pekerjaan profesional, kita harus memilah pada satu ranah dan bagian yang tepat,” katanya ketika ditemui wartawan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (21/2/2018).
Pernyataan Menhub itu terkait peringatan sebelumnya bahwa kontrakator di lingkungan Kemenhub akan dikenai sanksi bilamana melalaikan keselamatan pekerjanya. ”Jangan kontraktor langsung diberikan pinalti, padahal dia ikuti anjuran dari perencana dan pengawasan, jadi tidak salah. Mesti ada mitigasi tertentu.”
Terkait robohnya tiang di proyek jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jalan DI Pandjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Kemenhub belum memutuskan sanksinya. Namun sinyalir dari Kemenhub karena para pekerja kelebihan jam kerja (over work).
Meski belum menerima laporan terkait hal tersebut, Budi menyebut ada indikasi salah satu alasan dari kecelakaan konstruksi tersebut karena pekerja yang kelebihan jam kerja. “Untuk pekerjaan itu kan saya belum dapat report untuk overwork, tapi indikasi ada,” ungkapnya
Lebih lanjut, Menhub menilai Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku selama ini tidak memenuhi ketentuan keselamatan.
Pihaknya pun berencana untuk mengatur SOP agar memenuhi standar. Ia memberi contoh seperti pembagian waktu kerja hingga pengawasan.
“Dalam SOP pasti ada beberapa hak dipenuhi, seperti mempekerjakan pekerja apakah 2 shift, 3 shift, bagaimana perlakuan istirahat, bagaimana perlakukan pengawasan itu semua ada. Jadi artinya kita akan menilik lagi SOP,” tuturnya làgi. ( */B)