Terminal

Ditulis oleh Toto TIS Suparto on . Posted in airport-services

Suatu pagi, pertengahan April  2017, terminal di sebuah bandara internasional di Jawa tampak padat. Masuk ke terminal keberangkatan saja harus antre panjang. Beberapa penumpang tampak panik. Mereka yang datang ke bandara dengan jeda waktu pendek dari jam keberangkatan adalah yang tampak panik. Kemudian mereka ambil jalan pintas, menerobos antrean. “Aduh maaf....saya terlambat,” katanya sembari memotong antrean dan kemudian meyakinkan petugas agar bisa masuk.
Begitulah cuplikan aktivitas di terminal bandara. Tatkala kondisi terminal terbatas, sementara jumlah penumpang membludak, maka berubahlah terminal bandara menjadi “pasar”. Berjubel dan sangat tidak nyaman. Inilah fenomena di sejumlah bandara besar. Ketika transportasi moda udara bukan lagi sesuatu yang mewah, maka pengelola bandara dituntut untuk menyediakan terminal yang layak. Tanpa ada pembenahan, pengguna jasa akan komplain.
Terminal merupakan sarana pertama yang besentuhan dengan penumpang. Sesuai dengan fungsinya, terminal bandara merupakan prasarana transportasi di kawasan lapangan terbang dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat naik turun penumpang, bongkar muat barang dan/atau pos, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan  penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
Di terminal, penumpang mengurus tiket, menitipkan bagasinya, dan diperiksa pihak keamanan. Bandara kecil memiliki sebuah terminal, sementara bandara besar memiliki beberapa terminal dan/atau concourse. Di bandara kecil, bangunan terminal tunggal melayani semua fungsi sebuah terminal dan concourse. Beberapa bandara besar memiliki lebih dari satu terminal, masing-masing dengan satu concourse atau lebih. Bandara Soekarno-Hatta, misalkan, memiliki lebih dari satu terminal. Terbaru adalah Terminal 3.
Terminal yang memiliki panjang sekitar 1 kilometer dan luas bangunan‎ 422.804 m2 ini memang tergolong megah. Terminal ini berkonsep modern dan menerapkan beberapa teknologi yang mumpuni. Contoh saja dari segi keamanan para penumpang. Dalam terminal ini  dilengkapi puluhan CCTV yang siap memantau pergerakan setiap penumpang.
Kemegahan dan kecanggihan Terminal  3 itu bukan sekadar membuat penumpang nyaman. Namun ada sisi lain, bahwa kemegahan terminal itu sekaligus menjadi etalase negara. Tatkala orang asing masuk ke terminal, mereka akan bisa segera menilai suatu bangsa. Oleh karena itu, ada benarnya jika Terminal 3 dibuat megah dan canggih karena sekaligus menampakkan wajah depan Indonesia.
Demikian pula di daerah. Terminal bandara menjadi wajah daerah bersangkutan. Ketika penumpang disuguhi terminal yang sesak, kumuh dan tidak aman, maka akan membuat pengguna jasa enggan datang lagi ke bandara tersebut. “Ah bandaranya kurang memadai, rasanya kurang nyaman datang ke kota ini,” begitu komentar pengguna jasa bandara ketika pertama kali mendarat di sebuah bandara dengan terminal seadanya.
Memang, masih tarik ulur dalam pengembangan bandara, bikin bagus terminalnya atau memperpanjang landas pacu? Ada yang berpandangan perpanjang runway dulu, agar pesawat besar bisa mendarat. Ketika pesawat berbadan besar mendarat, berarti jumlah penumpang yang terangkut lebih banyak. Namun jika penumpang bertambah, sedangkan kapasitas terminal  tetap, maka penumpang itu akan melebihi kapasitas.
Idealnya, pengembangan sisi udara dan sisi darat memang berbarengan. Namun kendala anggaran sering menjadi rintangan. Apapun pilihan prioritas pengembangan, setidaknya Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta bisa menjadi inspirasi bahwa terminal bandara selayaknya menjadi kebanggaan daerah. Terminal adalah etalase daerah bersangkutan. ( tis )