Kepala BMKG Dwikorita Karnawati : Kerja 24 Jam, 7 Hari & 30 Menit

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Rizki Indriyanah dan Istimewa on . Posted in airport-services

Dalam dunia penerbangan, informasi cuaca di bandara keberangkatan maupun tujuan, serta selama penerbangan tentu sangat dibutuhkan oleh Pilot karena menyangkut keselamatan penerbangan. Untuk itu, BMKG memiliki peran penting dalam memberikan informasi cuaca terkait yang dibutuhkan oleh Pilot dan memiliki wewenang dalam memberikan informasi cuaca yang dibagi menjadi dua wilayah ruang udara dan disebut dengan FIR (Flight Information Region), dimana wilayah ruang udara disediakan oleh stasiun meteorologi penerbangan di Bandara Soekarno – Hatta dan di wilayah ruang udara timur disediakan oleh Bandara Sultan Hasannudin, di Makassar.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengemukakan, BMKG memiliki 97 UPT (Unit Pelaksana Teknis) di daerah yang melayani informasi meteorologi penerbangan untuk bandara-bandara di Indonesia. “UPT tersebut bertugas untuk melakukan pengamatan unsur cuaca dan memberikan layanan informasi meteorologi untuk keperluan take off dan landing pesawat, serta menyediakan berbagai informasi meteorologi penerbangan yang dibutuhkan untuk layanan navigasi penerbangan,” katanya.
Dwikorita juga menambahkan, untuk bandara yang belum ada UPT atau stasiun meteorologi penerbangan, BMKG membangun alat pengamat cuaca otomatis, yaitu AWOS (Automatic Weather observation System) yang merupakan alat pengamatan cuaca otomatis yang ditempatkan di bagian-bagian tertentu pada sisi landasan di bandara dan alat tersebut memberikan informasi untuk keperluan take-off dan landing kepada ATC. “Indonesia memiliki 300 bandara, sedangkan BMKG memiliki 97 stasiun meteorologi penerbangan yang tersebar di seluruh Indonesia. Bagi bandara yang belum ada stasiun meteorologi penerbangan, kami memasangkan alat pengamat cuaca otomotis AWOS,” lanjutnya.
Terkait informasi cuaca, menurut Dwikorita informasi unsur cuaca yang sangat penting untuk diketahui oleh Pilot atau Penerbang adalah arah dan kecepatan angin, visibility, kondisi cuaca dan jenis awan, salah satunya adalah jenis awan cumulonimbus yang membahayakan penerbangan, suhu udara, serta tekanan. “Informasi tersebut kami berikan kepada AirNav Indonesia, lalu  oleh AirNav diinfokan kepada ATC tiap-tiap bandara dengan munggunakan system komunikasi yang disediakan oleh AirNav, yaitu AFTN (aeronauticl fixed telecommunication network),” ujar Dwikorita.
Dwikorita menjelaskan lebih lanjut, bahwa Stasiun Meteorologi Penerbangan di bandara secara rutin, yakni setiap 30 menit melakukan pengamatan dan pelaporan unsur cuaca, baik prakiraan cuaca di bandara, cuaca selama rute penerbangan, serta setiap ada perubahan cuaca ekstrim akan diberikan peringatan dini sebelum terjadinya cuaca ekstrim yang datang tiba-tiba, juga termasuk informasi penyebaran abu vulkanik gunung api dan semua informasi cuaca yang dapat mengganggu operasional penerbangan. “Selain informasi yang diberikan secara rutin tiap 30 menit, sebelum terbang Pilot harus ambil flight document terlebih dahulu ke stasiun meteorologi penerbangan di bandara. Informasi yang kami berikan berdasarkan data satelit Himawari dan radar cuaca. BMKG memiliki 40 radar yang tersebar di Indonesia, jadi informasi dari satelit akurasinya dipertajam oleh radar. Jika akan terjadi cuaca ektrim, kami memberikan peringatan dini tiga jam sebelum terbang,” jelasnya.
Demi menciptakan keselamatan penerbangan, BMKG bekerja 24 jam tujuh hari 30 menit dan sewaktu-waktu terjadi cuaca ektrim dan terus melakukan inovasi teknologi yang lebih canggih lagi dalam merapatkan jaringan yang dapat stabil dalam keadaan apapun agar dapat tercipta informasi cuaca yang lebih cepat, tepat dan akurasi. B