Target OTP pada 2019 Capai 88%

Ditulis oleh Teks Toto TIS Suparto, Foto Istimewa on . Posted in airport-services

Terkait pelayanan maskapai itu, maka akan bersinggungan dengan tolok ukur OTP. Dirjen Perhubungan Udara juga berbicara soal OTP ini.
Target ketepatan waktu atau On Time Performance (OTP)  penerbangan Indonesia tahun 2019 dalam review Renstra DJU Tahun 2015 -2019 adalah sebesar 88%. Sementara itu  OTP maskapai penerbangan pada tahun 2017 mencapai 80,14 persen atau 664.024 penerbangan tepat waktu dari total 828.609 penerbangan yang dilakukan. Presentase tersebut turun sekitar 2,5 persen dibanding tahun 2016 lalu dimana OTP tahun 2016 mencapai 82,67 persen atau 631.216 penerbangan dari total 763.522 penerbangan.
Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menjelaskan soal OTP saat berbicara pada acara Expert Talk: Aviation Industri di Hotel Margo, Depok. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Indonesia.
“Ketepatan waktu adalah salah satu pelayanan kepada penumpang yang sangat penting. Karena penumpang pesawat sejatinya membeli waktu penerbangan, selain membeli rute yang dibutuhkan. Dengan waktu penerbangan yang on-time, penumpang bisa menjalankan jadwal kegiatannya dengan tepat waktu juga,” kata Agus.
Terpisah dari acara tersebut, jika mengutip laporan Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, dicatat adanya keterlambatan penerbangan (delay) tahun 2017 yang mencapai159.153 penerbangan atau 19,21 persen, serta pembatalan (cancel) penerbangan mencapai 5.432 penerbangan atau 0,66 persen dari total penerbangan domestik.
Penyebab delay dan cancel pada tahun 2017 lalu masih didominasi oleh faktor non teknis operasional (terkait dengan maskapai penerbangan) yaitu 9,67 persen atau 80.094 penerbangan. Disusul oleh faktor teknis operasional (terkait dengan bandar udara) sebesar 6,43 persen atau 53.250 penerbangan, faktor lain 1,68 persen (13.931 penerbangan) dan faktor cuaca 1,43 persen (11.879 penerbangan).
Selain soal OTP, Dirjen Agus Santoso mengemukakan beberapa persoalan penerbangan,  di antaranya terkait dengan kepadatan lalu lintas ruang udara yang ada saat ini, keterbatasan penggunaan ruang udara dengan adanya military training area di Yogya, Madiun dan Malan, rata-rata pertumbuhan penumpang sebesar 9.45% tiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan rute sebesar 8.67% tiap tahun, aksesibilitas dan efisiensi pelayanan bandara, serta keamanan dan keselamatan penerbangan di Papua. (*/B)