Nurtanio : Perintis Industri Pesawat Terbang Indonesia

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah, Foto Istimewa on . Posted in Domestic

Presiden Jokowi secara resmi memberikan nama Nurtanio pada pesawat N-219 tepat di Hari Pahlawan, yaitu tanggal 10 November 2017. Pesawat tesebut merupakan hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia dengan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).
Nama Nurtanio dalam dunia penerbangan di Indonesia tentu sudah tidak asing lagi. Nurtanio adalah salah seorang perintis berdirinya industry pesawat terbang di Indonesia. Mantan prajurit TNI Angkatan Udara ini sudah merintis pembuatan pesawat terbang di Tanah Air sejak tahun 1946.
Nurtanio Pringgoadisuryo, pria kelahiran Kalimantan Selatan pada 03 Desember 1924 ini memiliki hasrat besar terhadap dunia penerbangan. Pada tahun 1946, dia bersama Wiwekeo Soepono berhasil dan sukses membuat pesawat layang Zogling NWG.
Nama NWG sendiri merupakan akronim dari Nurtanio-Wiwekeo-Glider. Pesawat ini dibuat dari kayu jamuju yang dicari di daerah Tretes untuk menggantikan kayu spruce, sayap dibalut menggunakan kain blaco menggantikan kain linen dan kemudian diolesi dengan bubur cingur yang merupakan pengganti thinner. Pesawat Zoling NWG adalah satu-satunya burung besi buatan Indonesia yang memiliki kandungan lokal hingga 100% sampai detik ini.
Nurtanio mulai tertarik terhadap dunia penerbangan saat duduk di bangku sekolah menengah tinggi teknik atau Kogyo Senmon Gakko. Lalu, ia mendirikan perkumpulan Junior Aero Club (JAC), yang di dalamnya berisi tentang bagaimana teknik pembuatan pesawat model yang merupakan dasar-dasar aerodinamika.
Dalam perkumpulan tersebut Nurtanio berkenalan dan bertemu dengan R.J Salatun, yang juga memiliki minat dalam masalah penerbangan. Di JAC, Nurtanio dan sahabatnya, R.J Salatun juga bertemu dengan Iswahyudi, seorang guru olahraga yang memiliki pengetahuan dalam masalah penerbangan. Saat Perang Dunia II pecah, Iswahyudi sedang mengikuti pendidikan penerbang militer di Belanda dan kemudian ia diungsikan ke Negeri Kanguru, Australia.
Pada masa itu, perhatian Nurtanio tidak hanya terpaku pada pesawat model saja, tetapi ia juga bahkan menekuni buku-buku penerbangan yang saat itu banyak menggunakan bahasa Jerman.
Pada awal kemerdekaan Bangsa Indonesia, Nurtanio pun bergabung dengan Angkatan Udara di Yogyakarta, yang saat itu disebut dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Lalu, sahabatnya, R.J Salatun dan Wiweko Soepono pun turut bergabung dengan TKR Jawatan Penerbangan.
Hasil karya Nurtanio dalam dunia penerbangan tidak hanya pesawat layang saja. Tetapi ia juga berhasil membuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia yang diberikan nama Si Kumbang, Kunang-Kunang yang bermesin VW, Belalang dan Gelatik. B