History : Sejarah Penerbangan Indonesia

Ditulis oleh Teks Rizki Indriyanah on . Posted in Domestic

Penerbangan di Indonesia kini mengalami banyak perkembangan. Transportasi udara bukan lagi menjadi barang mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas. Banyaknya maskapai yang melayani rute penerbangan komersil ke seluruh pelosok Nusantara dan berlomba-lomba memberikan harga tiket yang terjangkau untuk berbagai kalangan dengan masing-masing keunggulan pelayanan yang dimiliki.
Penerbangan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting untuk menghubungkan daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau oleh moda transportasi lain juga membantu mendongkrak perekonomian daerah menjadi lebih menggeliat. Dengan transportasi udara, tentu kita  dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan.
Berkembangnya penerbangan di Indonesia tentu tidak terlepas dari sejarah pada masa penjajahan jaman Belanda. Pada tahun 1905, warga Belanda bernama Onnen memulai percobaan untuk membuat pesawat dengan menggunakan bahan bambu dan kulit kerbau di Sukabumi, Jawa Barat. Sedangkan berdasarkan catatan sejarah, penerbangan pertama di Indonesia dilakukan oleh seorang penerbang asal Belanda bernama J.W.E.R Hilger pada 19 Februari 1913 menggunakan pesawat jenis Fokker dalam kegiatan pameran yang berlangsung di Surabaya, meskipun berakhir dengan terjadinya kecelakaan namun tidak menewaskan penerbangnya.
Pada tahun 1914, aktifitas serupa juga muncul di daerah Jawa Timur. VOC Belanda mendirikan lembaga khusus untuk membuat eksperimen percobaan penerbangan dengan nama Proef Vlieg Afdeling. Lembaga ini bertujuan untuk memproduksi pesawat terbang yang nantinya akan beroperasi di wilayah Asia, terutama Indonesia.
Pada tahun 1923, Belanda berhasil mendirikan Technische Dienst Luchtvaart Afdeling yang terletak di daerah Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, dan merupakan cikal bakal dari berdirinya industri pesawat terbang di Indonesia. Lalu pada tahun 1924, lembaga ini dipindahkan ke lapangan udara Andir, yang mana lapangan tersebut kini dikenal menjadi Bandar Udara Husein Sastranegara.
Melihat adanya prospek yang baik untuk penerbangan sipil dan militer di Indonesia,  pada 01 Oktober 1924, sebuah pesawat jenis Fokker F-7 milik maskapai Belanda mencoba melakukan penerbangan dari Bandara Schippol Amsterdam ke Batavia yang kini dikenal sebagai Ibukota Jakarta. Penerbangan yang penuh petualangan dan tantangan tersebut membutuhkan waktu hingga 55 hari dan berhenti di 19 kota untuk sampai di Batavia, hingga akhirnya berhasil mendarat di Cililitan yang sekarang terkenal dengan nama Bandara Halim Perdanakusuma.
Suksesnya penerbangan pertama dari Belada ke Jakarta itulah yang menjadi awal mula penerbangan berjadwal di Indonesia. Meskipun masih membutuhkan waktu lima tahun lagi untuk dapat memulai penerbangan berjadwal. Penerbangan tersebut dilakukan oleh maskapai KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) dengan menggunakan pesawat jenis Fokker F-78 bermesin tiga yang digunakan untuk membawa kantong surat. Lalu pada tahun 1931, jenis pesawat yang digunakan diganti dengan jenis Fokker-12 dan Fokker-18 yang dilengkapi dengan kursi agar dapat mengangkut penumpang.
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, seluruh fasilitas milik pemerintah Belanda di Indonesia pun diambil alih oleh Bangsa Indonesia. Pada saat itu fasilitas penerbangan dikuasai oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) bagian Udara. Tidak hanya itu saja. Pada masa perang melawan penjajahan Jepang pun Indonesia banyak mengambil alih dan memodifikasi pesawat milik Jepang yang dikenal dengan sebutan pesawat Nishikoren.
Keberhasilan memodifkasi pesawat milik para penjajah bangsa Indonesia pun tidak terlepas dari tokoh dirgantara Indonesia seperti salah satunya adalah Adi Sutjipto yang membuat pesawat jenis B-25 milik Belanda dapat terbang lebih baik. B